Tafsir Depag RI : QS 001 - Al
Faatihah 4
ِكِلاَم ِمْوَي
ِنيِّدلا )4(
Sesudah Allah swt.
menyebutkan beberapa
sifat-Nya, yaitu: Tuhan
semesta alam, Yang Maha
Pemurah, Maha Penyayang,
maka diiringi-Nya dengan
menyebutkan satu sifat-
Nya lagi, yaitu menguasai
hari pembalasan.
"Malik" berarti "Yang
Menguasai"
Ada dua macam bacaan
berkenaan dengan "Malik",
pertama dengan
memanjangkan "Maa",
kedua dengan
memendekkannya.
Menurut bacaan yang
pertama, "Maalik" artinya:
Yang memiliki (yang
empunya). Sedang menurut
bacaan yang kedua, artinya:
Raja; kedua-dua bacaan itu
dibolehkan.
Baik menurut bacaan yang
pertama, atau pun bacaan
yang kedua, dapat dipahami
dari kata itu arti "berkuasa"
dan bertindak dengan
sepenuhnya. Sebab itulah
maka diterjemahkan
dengan: "Yang menguasai".
"Yaum", (hari) artinya,
tetapi yang dimaksud di sini
ialah waktu secara mutlak.
"Ad-Din" itu banyak artinya,
di antaranya:
1. Perhitungan
2. Ganjaran,
pembalasan
3. Patuh
4. Menundukkan
5. Syariat, agama
Yang selaras di sini ialah
dengan arti "pembalasan".
Jadi "Maaliki yaumiddin"
maksudnya "Tuhan itulah
yang berkuasa dan yang
dapat bertindak dengan
sepenuhnya terhadap
semua makhluk-Nya pada
hari pembalasan itu".
Sebetulnya pada hari
kemudian itu banyak hal-
hal yang terjadi, yaitu hari
kiamat, hari berbangkit,
hari berkumpul, hari
perhitungan, hari
pembalasan, tetapi
pembalasan sajalah yang
disebut oleh Tuhan di sini,
karena itulah yang
terpenting. Yang lain dari
itu, umpamanya kiamat,
berbangkit dan seterusnya,
pendahuluan dari
pembalasan itu, apalagi
untuk targib dan tarhib
(menarik dan menakuti)
dengan menyebut "hari
pembalasan" itulah yang
lebih tepat.
Hari akhirat menurut
pendapat akal (filsafat)
Kepercayaan tentang
adanya hari akhirat, yang di
hari itu akan diadakan
perhitungan terhadap
perbuatan manusia di masa
hidupnya dan diadakan
pembalasan yang setimpal,
adalah suatu kepercayaan
yang sesuai dengan akal.
Sebab itu adanya hidup
yang lain, sesudah hidup di
dunia ini bukanlah saja
ditetapkan oleh agama,
malah juga ditunjukkan
oleh akal.
Seseorang yang mau
berpikir tentu akan merasa
bahwa hidup di dunia ini
belumlah sempurna, perlu
disambung dengan hidup
yang lain. Alangkah
banyaknya hidup di dunia ini
orang yang teraniaya telah
pulang ke rahmatullah
sebelum mendapat
keadilan. Alangkah
banyaknya orang yang
berjasa, biar kecil atau
besar, belum mendapat
penghargaan terhadap
jasanya. Alangkah
hanyaknya orang yang
telah berusaha, memeras
keringat dan peluh,
membanting tulang tetapi
belum sempat lagi merasa
buah usahanya itu.
Sebaliknya, alangkah
banyaknya penjahat-
penjahat, penganiaya,
pembuat onar yang tak
dapat dipegang oleh
pengadilan di dunia ini.
Lebih-lebih kalau yang
melakukan kejahatan atau
aniaya itu orang yang
berkuasa sebagai raja,
pembesar dan lain-lain.
Maka biar pun kejahatan
dan aniaya itu telah meratai
bangsa seluruhnya tiadalah
digugat orang, malah dia
tetap dipuja dan dihormati.
Victor Hugo (1802-1885)
pernah menyindir keadaan
ini dengan katanya,
"Membunuh seorang
manusia dalam rimba
adalah satu dosa yang tak
dapat diampuni, tetapi
membunuh suatu bangsa
seluruhnya adalah satu soal
yang masih dapat
dipertimbangkan." Maka di
manakah akan didapat
gerangan keadilan itu, kalau
tidak ada nanti mahkamah
yang lebih tinggi, yaitu
mahkamah Allah di hari
kemudian.
Sebab itu ahli-ahli pikir dari
zaman dahulu telah ada
yang sampai kepada
kepercayaan tentang
adanya hari akhirat itu,
semata-mata dengan jalan
berpikir. Antara lain
Pythagoras; filosof ini
berpendapat bahwa hidup
di dunia ini persediaan hidup
yang abadi di akhirat kelak.
Sebab itu semenjak dari
dunia hendaklah orang
bersedia untuk hidup yang
abadi ini. Socrates, Plato
dan Aristoteles, "Jiwa yang
baik akan merasai
kenikmatan dan kelezatan
di akhirat, tetapi bukan
kelezatan kebendaan,
karena kelezatan
kebendaan itu terbatas dan
mendatangkan bosan dan
jemu. Hanya kelezatan
rohani yang bagaimana pun
banyak dan lamanya,
tiadalah menyebabkan
bosan dan jemu."
Kepercayaan Bangsa Arab
Sebelum Islam tentang hari
akhirat
Di antara bangsa Arab
sebelum datang agama
Islam didapati beberapa ahli
pikir dan pujangga-
pujangga yang telah
mempercayai adanya hari
kemudian itu. Umpamanya
Zuhair bin Abu Sulma yang
meninggal dunia setahun
sebelum Nabi Muhammad
saw. diutus Allah. Pujangga
ini pernah berkata yang
artinya:
Sesuatu pekerti atau
perbuatan seseorang yang
menurut dugaannya tidak
diketahui orang, pasti
diketahui juga oleh Tuhan.
Sebab itu janganlah
disembunyikan kepada
Allah sesuatu yang ada
pada dirimu, karena
bagaimanapun kamu
menyembunyikan, niscaya
Allah akan mengetahuinya.
Dilambatkan membalasnya,
maka ditulislah dalam buku
disimpan sampai "hari
perhitungan", atau
disegerakan maka diberi
balasan. \s
Ada pula di antara mereka
yang tidak mempercayai
adanya hari kemudian itu.
Dengarlah apa yang
dikatakan oleh salah
seorang penyair mereka:
"Hidup, sudah itu mati,
sudah itu dibangkit lagi,
itulah cerita dongeng hai
fulan".
Karena itu, datanglah
agama Islam membawa
kepastian tentang adanya
hari kemudian. Di hari akan
dihisab semua perbuatan
yang telah dikerjakan
manusia selama hidupnya
biar pun besar atau kecil.
Allah swt. berfirman:
ْنَمَف ْلَمْعَي
َلاَقْثِم ٍةَّرَذ
اًرْيَخ ُهَرَي )7(
ْنَمَو ْلَمْعَي
َلاَقْثِم ٍةَّرَذ
اًّرَش ُهَرَي )8(
Artinya:
Barang siapa yang
mengerjakan kebaikan
seberat zarrah pun niscaya
dia akan melihat
(balasan)nya. Dan barang
siapa mengerjakan
kejahatan seberat zarah
pun niscaya akan melihat
(balasan)nya pula. (Q.S Az
Zalzalah: 7-8)
No comments:
Post a Comment