Showing posts with label AL QUR'AN. Show all posts
Showing posts with label AL QUR'AN. Show all posts

Wednesday, January 19, 2011

AL-BAQARAH..ayat 3

:: Ayat 3 ::
"Yaitu orang-orang yang
beriman kepada yang gaib
dan mendirikan solat, serta
mendirikan solat, serta
menafkahkan sebagian dari
rizki yang kami berikan
kepada mereka."
Al-Quran membagi alam
wujud menjadi dua bagian,
yaitu alam gaib yang tak
terjangkau oleh indera kita,
dan alam nyata yang dapat
kita raba dan kita ketahui
keberadaannya melalui
indera. Sebagian orang
hanya mau menerima dan
meyakini keberadaan hal-hal
yang dapat mereka lihat dan
mereka dengar serta mereka
tangkap dengan salah satu
dari panca indera mereka.
Mereka ingin memahami
segala sesuatu hanya melalui
indera mereka. Padahal
indera manusia sangat
terbatas dan tidak mampu
menjangkau segala sesuatu
yang ada.
Umpamanya, daya teknik
yang merupakan salah satu
ciri khas benda-benda
materi, tidak dapat
ditangkap dengan indera.
Akan tetapi kita mengetahui
keberadaannya melalui
peristiwa jatuhnya benda-
benda ke bawah yaitu ke
bumi. Jadi pengetahuan kita
akan
keberadaan kekuatan atau
daya tarik ini, datang melalui
akibat-akibat yang
ditimbulkannya, bukan
dengan menangkap esensi
daya tarik itu sendiri.
Sebagian orang berkeinginan
melihat Allah SWT dengan
mata mereka.
Hal itu sebagaimana Bani
Israel yang berkata kepada
Nabi Musa 'alaihissalam;
Artinya: "Kami tidak akan
beriman kepadamu kecuali
jika kami dapat melihat Allah
dengan terang." Padahal
Allah SWT bukan jisim,
sehingga dapat dilihat. Akan
tetapi kita dapat
memastikan, dan meyakini
alam gaib, yaitu wujud Allah,
para malaikat, dan alam
akhirat, yang semuanya itu
tak terjangkau oleh indera
lahir manusia. Tentu saja,
iman adalah tingkat yang
lebih tinggi dari pada ilmu
dan pengetahuan. Suatu
tahap dimana hati dan jiwa
manusia juga menyaksikan
adanya wujud sesuatu,
menjalin hubungan
dengannya dan
mencintainya. Jelas sekali
bahwa iman dan keyakinan
seperti ini juga akan
melahirkan perbuatan-
perbuatan baik pada diri
manusia. Dan pada
prinsipnya, menurut
pandangan Islam, Iman tanpa
amal, dan keyakinan
semata-mata, tidak akan
membawa manusia ke arah
kesempurnaan.
Ayat ini mengatakan, orang-
orang yang bertakwa selain
orang-orang yang beriman
kepada yang gaib, juga
merupakan orang-orang
yang mendirikan solat dan
menunaikan zakat. Dengan
solat yang merupakan
Dzikrullah, mereka
memenuhi tuntutan-
tuntutan ruhani dan jiwa
mereka. Dengan itu mereka
akan dapat memenuhi
tuntutan-tuntutan
masyarakat, sehingga rakyat
pun dapat merasakan
kesejahteraan hidup
sekedarnya. Sesungguhnya
solat saja dengan sendirnya
tidaklah cukup. Seseorang
hendaklah menegakkan
solat, juga mengajak orang
lain untuk menegakkan solat.
Hendaknya solat
dilakukan di awal waktu,
juga di dalam masjid dengan
berjamaah.
Dengan demikian solat akan
mendatangkan manfaat di
dalam masyarakat dan
merupakan kedudukan yang
sebenarnya. Berkenaan
dengan masalah sedekah
pun, Islam tidak
menganjurkan pemberian
bantuan-bantuan material
saja lalu selesai. Akan tetapi
yang ditegaskan di dalam Al-
Quran untuk diberkan
kepada orang lain ialah "Mim
Ma Razaqna". Yaitu apa saja
yang telah Allah berikan,
meliputi kekayaan harta,
kekuatan, kekuasaan, ilmu
pengetahuan, dan segala
fasilitas, kelebihan yang
merupakan pemberian Allah
SWT.
Kini marilah kita lihat sekilas
hal-hal yang dapat kita ambil
sebagai pelajaran dari kalam
Ilahi ini:
1) Alam wujud, tak terbatas
pada alam materi. Terdapat
hal-hal yang memiliki wujud,
tetapi tak terjangkau oleh
indera kita. Namun akal dan
hati kita dapat membuktikan
wujud mereka itu. Dengan
demikian kita harus
menyakini keberadaan hal-
hal tersebut.
2) Iman tak terpisahkan dari
amal perbuatan, dan orang
yang beriman adalah orang
yang selalu beramal soleh,
sebagaimana yang
diperintahkan oleh Allah SWT.
3) Solat adalah amalan
terpenting bagi manusia
beriman.
4) Segala apa yang kita miliki
adalah dari Allah, dengan
demikian sebagian darinya
mestilah kita berikan kepada
orang lain yang memerlukan.
Allah pun akan memberikan
gantinya baik di dunia
maupun di akhirat.
5) Islam adalah agama yang
lengkap dan diturunkan
untuk mengatur kehidupan
masyarakat. Islam mengatur
hubungan dengan manusia
dan manusia dengan
masyarakatnya.

Al-BAQARAH..Ayat 2

:: Ayat 2 ::
"Itulah Kitab yang tak ada
keraguan di dalamnya,
sebagai petunjuk bagi orang-
orang yang bertaqwa".
Al-Quran adalah sebuah Kitab
yang amat mulia, warisan
kaum-kaum terdahulu untuk
manusia zaman ini, yang
mampu menyampaikan
ajaran-ajaran yang paling
tinggi ke telinga seluruh
penduduk dunia.
Meskipun Al-Quran tidak
turun dari langit dalam
bentuk kitab, namun oleh
karena untuk menjaga ayat-
ayat Ilahi dari segala bentuk
perubahan dan
penyimpangan , maka
Rasulullah SAWW
memerintahkan kepada
umatnya yang mengerti baca
tulis agar mencatat apa-apa
yang telah beliau terima
sebagai wahyu dan beliau
sampaikan kepada umatnya.
Walaupun banyak juga
masyarakat yang menghafal
dan menyimpannya di dada
mereka.
Jika manusia mempelajari
Kitab Ilahi ini dengan teliti
dan memahami topik-topik
yang terkandung di
dalamnya, maka ia pasti
akan yakin bahwa Kitab ini
datang dari sisi Allah, dan
bahwa penjelasan-
penjelasan ajaran yang
sedemikian hebat, oleh
seorang manusia, itu pun
pada 14 abad yang lalu, dan
hidup di antara kaum yang
sama sekali jahil dan bodoh,
adalah suatu perkara
mustahil.
Sebagaimana di awal acara,
telah kami katakan sebagai
pendahuluan, bahwa Al-
Quran adalah Kitab pemberi
petunjuk dan pembimbing
manusia menuju ke
kebahagiaan dan
kesenangan. Siapa pun yang
menginginkan kebahagiaan,
maka ia tak memiliki jalan
lain kecuali kembali kepada
Kitab petunjuk yang datang
dari Sang Pencipta in. Dan
dengan pemanfaatan yang
benar dari keberadaannya,
maka ia dapat menjauhkan
diri dari bahaya-bahaya yang
mengancam jiwa raganya.
Di dalam ayat 185 Surat Al-
Baqarah Allah SWT
berfirman:
Artinya: "Bulan Ramadlan
yang diturunkan di dalamnya
Al-Quran sebagai petunjuk
bagi seluruh manusia".
Tentunya jelas sekali bahwa
orang-orang yang benar-
benar ingin mengetahui
kebenaran dan
menerimanya, merupakan
orang-orang yang akan
dapat mengambil manfaat
dari Kitab Samawi inil.
Sedangkan ornag-orang
yang keras kepala, fanatik
dan hanya memperturutkan
hawa nafsunya, yang bukan
hanya tidak mencari
kebenaran, bahkan keitka
mereka menemukannya,
mereka berusaha
memadamkan cahaya
kebenaran tersebut, maka
orang-orang seperti ini tak
akan pernah memperoleh
manfaat dari Al-Quran.
Dengan demikian, sejak
langkah pertama, diperlukan
adanya ketakwaan fitri yang
merupakan syarat untuk
seseorang dapat menerima
hidayah Al-Quran. Oleh
karena itu Al-Quran
mengatakan di dalam ayat
ini: " Hudal lil muttaqin." Al-
Quran adalah petunjuk untuk
orang-orang yang bertakwa.
Berikut adalah pelajaran
yang dapat kita ambil dari
ayat-ayat di atas:
1. Para pengikut Rasulullah
SAWW sangat mementingkan
masalah penghafalan dan
penulisan Al-Quran. Oleh
karena itu ayat-ayat yang
turun mereka tulis sehingga
terbentuk sebuah kitab yang
kemudian sampai ke tangan
kita. Kita pun harus menjaga
kesucian dan kehormatan
Kitab Ilahi ini.
2. Kandungan Kitab Suci ini
sangat kuat dan kokoh,
karena ia datang dari Allah
yang Maha Bijaksana.
3. Al-Quran adalah Kitab
pemberi petunjuk kepada
seluruh umat manusia. Ia
bukan kiab yang berbicara
mengenai bidang tertentu.
Oleh karena itu kita tidak
akan mencari petunjuk dari
Kitab Suci ini yang berkenaan
dengan masalah-masalah
fisika atau kimi, atau
matematika.
4. Agar sinar Al-Quran dapat
menembus hingga ke lubuk
hati dan jiwa kita, maka kita
harus mempersiapkan hati
dan jiwa kita dengan sebaik-
baiknya untuk itu.
Sebagaimana kita lihat
bahwa cahaya akan dapat
menembus kaca yang bersih,
bukan kaca yang berlumuran
dengan lumpur atau kotoran-
kotoran lain.

AL-BAQARAH...1

Surat kedua di dalam Al-
Quranul Karim ialah sebuah
Surat yang terpanjang, yaitu
Surat Al-Baqarah, Surat ini
dinamakan demikian karena
terdapat cerita tentang
baqarah yang berarti sapi
betina, di dalam Surat
ini.Surat ini dimulai dengan
huruf-huruf yang memiliki
susunan khusus, sehingga
menarik perhatiap setiap
orang.
Ayat pertama:
Alif laam miim
Biasanya tiap satu kata
terdiri dari beberapa huruf,
dan memberikan arti
tertentu. Akan tetapi Allah
SWT telah memulai 29 Surat
dari 114 Surat di dalam
Kitab-Nya dengan huruf-
huruf (ada pula dengan
sebuah huruf) di mana setiap
huruf di baca sendiri-sendiri,
seperti ayat pertama dari
Surat Al-Baqarah ini. Kita
tidak membacanya "alam"
umpamanya. Akan tetapi kita
membacanya "alif laam
miim". Huruf-huruf semacam
ini , yang tak pernah ada
sebelumnya di dalam bahasa
Arab, di dalam istilah ulama
Muslimin disebut "huruf
Muqotto'ah", artinya huruf
yang terpotong-potong,
karena ia dibaca sendiri-
sendiri, tak menyambung.
Pada sebagian besar kasus,
setelah huruf-huruf ini,
datang ayat-ayyat yang
berbicara tentang mukjizat
dan keagungan serta
keontentikan Al-Quran.
Sebagaimana di dalam Surat
Syura, setelah "Haa Miim 'Ain
Siin Qoof", ayat selanjutnya
mengatakan:
Artinya: "Demikianlah Allah
mewahyukan kepadamu dan
kepada Nabi-nabi
sebelummu. Allah yang Maha
Mulia lagi Maha Bijaksana".
Di dalam kitab-kitab tafsir
dikatakan bahwa dengan
huruf-huruf ini Allah SWT
ingin mengatakan bahwa
Aku (Allah) telah menyusun
Kitab yang merupakan
mukjizat ini dengan huruf-
huruf yang juga ada pada
kalian, bukannya dengan
huruf-huruf dan kalimat-
kalimat serta susunan yang
tidak kalian kenal dan tak
kalian pahami.
Kini siapa saja yang
mengatakan bahwa Al-Quran
bukan mukjizat, jika ia
berkata benar, hendaklah ia
menyusun sebuah kitab yang
juga terdiri dari alif ba
sebagaimana Al-Quran, yang
memiliki kefasihan dan
keindahan tak tertandingi,
demikian pula dari segi isi
dan kandungannya tak ada
yang menyamai.
Yah …. Ini adalah karya seni
Allah, yang telah menyusun
sebuah kitab dari huruf-
huruf alif ba, namun manusia
tak mampu bahkan
membuat sebuah Surat saja
yang menyamainya.
Sebagaimana pada alam
ciptaan ini,. Allah
menumbuhkan berbagai
macam tumbuhan dari dalam
tanah yang mati tak
berkehidupan, sementara
manusia hanya mampu
membangun (benda-benda
mati pula) dari tanah, batu
dan lumpur.
Sebagaimana Surat Asy-
Syura, Surat ini pun, setelah
huruf-huruf "muqottoah",
maka ayat-ayat berikutnya
berbicara tentang sifat-sifat
Al-Quran yang menunjukkan
kemukjizatannya.

Tafsir Depag RI :QS 001 - AlFaatihah 7

Tafsir Depag RI :
QS 001 - Al
Faatihah 7
َطاَرِص َنيِذَّلا
َتْمَعْنَأ
ْمِهْيَلَع ِرْيَغ
ِبوُضْغَمْلا
ْمِهْيَلَع اَلَو
َنيِّلاَّضلا )7(
Setelah Allah swt.
mengajarkan kepada
hamba-Nya untuk
memohonkan kepada Allah
agar selalu dibimbing-Nya
menuju jalan yang lurus dan
benar, maka pada ayat ini
Tuhan menerangkan apa
jalan yang lurus itu.
Sebelum Alqur'anul Karim
diturunkan, Tuhan telah
menurunkan kitab-kitab
suci-Nya yang lain, dan
sebelum Nabi Muhammad
diutus Allah telah mengutus
rasul-rasul, karena sebelum
umat yang sekarang ini
telah banyak umat
terdahulu.
Di antara umat-umat yang
terdahulu itu terdapat nabi-
nabi, siddiqin yang
membenarkan rasul-rasul
dengan jujur dan patuh,
syuhada yang telah
mengorbankan jiwa dan
harta untuk kemuliaan
agama Allah, dan orang-
orang saleh yang telah
membuat kebajikan dan
menjauhi larangan Allah.
Mereka itulah orang-orang
yang telah diberi nikmat
oleh Allah, dan kita diajar
Tuhan supaya memohonkan
kepada-Nya, agar diberi-
Nya taufik dan bimbingan
sebagaimana Dia telah
memberi taufik dan
membimbing mereka.
Artinya sebagaimana
mereka telah berbahagia
dalam aqaid, dan dalam
menjalankan hukum-hukum
serta peraturan-peraturan
agama, mereka telah
mempunyai akhlak dan budi
pekerti yang mulia, maka
demikian pulalah kita
hendaknya. Dengan
perkataan lain, Allah
menyuruh kita supaya
mengambil contoh dan
tauladan kepada mereka
yang telah terdahulu itu.
Timbul pertanyaan
kenapakah Tuhan
menyuruh kita mengikuti
jalan mereka yang telah
terdahulu itu, padahal
dalam agama kita ada
pelajaran-pelajaran hukum,
petunjuk-petunjuk yang tak
ada pada mereka?
Jawabnya: Sebetulnya
agama Allah itu adalah satu,
kendatipun ada
perbedaannya, tetapi
perbedaan itu ialah pada
furu'-furu`nya, sedang
pokok-pokoknya adalah
serupa sebagai disebutkan
di atas.
Sebagaimana di dalam
umat-umat yang telah
terdahulu itu terdapat
orang-orang yang telah
diberi nikmat oleh Tuhan,
maka terdapat pula di
antara mereka orang-orang
yang dimurkai Allah dan
orang-orang yang sesat.
Orang yang dimurkai Allah
itu ialah mereka yang tak
mau menerima seruan Allah
yang disampaikan oleh
rasul-rasul, karena
berlainan dengan apa yang
mereka biasakan, atau
karena tidak sesuai dengan
hawa nafsu mereka,
kendatipun telah jelas
bahwa yang dibawa oleh
rasul-rasul itulah yang
benar. Masuk juga dalam
golongan ini, mereka yang
mulanya telah menerima
apa yang disampaikan oleh
rasul-rasul, tetapi kemudian
lantaran sesuatu sebab
mereka membelot, dan
membelakangi pelajaran-
pelajaran yang dibawa oleh
rasul-rasul itu.
Di dalam sejarah banyak
ditemukan orang-orang
yang dimurkai Tuhan itu,
sejak di dunia ini mereka
telah diazab, sebagai
balasan yang setimpal bagi
keingkaran dan sifat
angkara murka mereka.
Umpamanya kaum `Ad dan
Samud yang telah
dibinasakan oleh Allah, yang
sampai sekarang masih ada
bekas-bekas peninggalan
mereka di Jazirah Arab.
Begitu juga Firaun dan
kaumnya yang telah
dibinasakan Tuhan di Laut
Merah. Mumi Firaun yaitu
bangkainya telah dibalsem
sampai sekarang masih ada
disimpan dalam museum
Mesir.
Adapun orang-orang yang
sesat, ialah mereka yang
tidak betul
kepercayaannya, atau tidak
betul pekerjaan dan amal
ibadahnya serta rusak budi
pekertinya.
Bila akidah seseorang tidak
betul lagi, atau pekerjaan
dan amal ibadahnya salah,
dan akhlaknya telah rusak
akan celakalah dia dan
kalau sesuatu bangsa
berkeadaan demikian akan
jatuhlah bangsa itu.
Maka dengan ayat ini Allah
mengajari hamba-Nya
supaya memohonkan
kepada-Nya agar terjauh
dari kemurkaan-Nya, dan
terhindar dari kesesatan,
dan di dalamnya juga
tersimpul suruhan Allah
supaya manusia mengambil
pelajaran dari sejarah
bangsa-bangsa yang telah
terdahulu. Alangkah
banyaknya dalam sejarah
itu kejadian-kejadian yang
dapat dijadikan iktibar dan
pelajaran.
Dalam pada itu di dalam
Alquranul Karim sendiri
banyak ayat-ayat yang
berkenaan dengan umat
dan bangsa-bangsa yang
dahulu. Boleh dibilang 75%
isi Alquran adalah kisah dan
cerita. Memang tak ada
suatu juga yang lebih besar
pengaruhnya kepada jiwa
manusia daripada contoh-
contoh dan perbandingan-
perbandingan yang
terdapat dalam cerita-
cerita, kisah-kisah dan
sejarah.

Tafsir Depag RI :QS 001 - AlFaatihah 6

Tafsir Depag RI : QS 001 - Al
Faatihah 6
اَنِدْها َطاَرِّصلا
َميِقَتْسُمْلا )6(
"Ihdi": Pimpinlah,
tunjukilah, berilah
hidayah
Arti "hidayah" ialah:
Menunjukkan sesuatu
jalan atau cara
menyampaikan orang
kepada orang yang
ditujunya dengan baik.
Macam-macam hidayah
petunjuk)
Allah telah memberi
manusia bermacam-
macam hidayah, yaitu:
1. Hidayah naluri
(garizah)
Manusia begitu juga
binatang-binatang,
dilengkapi oleh Allah
dengan bermacam-
macam sifat, yang
timbulnya bukanlah dari
pelajaran, bukan pula
dari pengalaman,
melainkan telah
dibawanya dari
kandungan ibunya. Sifat-
sifat ini namanya
"naluri", dalam bahasa
Arab disebut "garizah".
Umpamanya, naluri "ingin
memelihara
diri" (mempertahankan
hidup). Kelihatan oleh
kita seorang bayi bila
merasa lapar dia
menangis. Sesudah
terasa di bibirnya mata
susu ibunya,
dihisapnyalah sampai
hilang laparnya.
Perbuatan ini
dikerjakannya tak
seorang juga yang
mengajarkan
kepadanya, bukan pula
timbul dari
pengalamannya,
hanyalah semata-mata
ilham dan petunjuk dari
Allah kepadanya untuk
mempertahankan
hidupnya.
Kelihatan pula oleh kita
lebah membuat
sarangnya, laba-laba
membuat jaringnya,
semut membuat
lobangnya dan
menimbun makanan
dalam lubang itu. Semua
itu dikerjakan oleh
binatang-binatang
tersebut ialah untuk
mempertahankan
hidupnya dan
memelihara dirinya
masing-masing dengan
dorongan nalurinya
semata-mata.
Banyak lagi naluri yang
lain, umpamanya garizah
ingin tahu, ingin
mempunyai, ingin
berlomba-lomba, ingin
bermain, ingin meniru,
takut dan lain-lain.
Sifat-sifat garizah
Garizah-garizah itu
sebagai disebutkan
terdapat pada manusia
dan binatang, hanya
perbedaannya ialah
garizah manusia bisa
menerima pendidikan
dan perbaikan, tetapi
garizah binatang tidak,
sebab itulah manusia
bisa maju tetapi
binatang tidak, hanya
tetap seperti sediakala.
Garizah-garizah itu
adalah dasar bagi
kebaikan sebagaimana
dia pun juga dasar bagi
kejahatan. Umpamanya
karena garizah ingin
memelihara diri, orang
berusaha, berniaga,
bertani, artinya mencari
nafkah secara halal.
Tetapi karena garizah
"ingin memelihara diri"
itu pulalah orang
mencuri, menipu,
merampok dan lain-lain.
Karena garizah "ingin
tahu" pulalah orang suka
mencari-cari aib dan
rahasia sesamanya,
yang mengakibatkan
permusuhan dan
persengketaan.
Demikianlah seterusnya
dengan garizah-garizah
yang lain.
Garizah-garizah itu tidak
dapat dihilangkan dan
tidak ada faedahnya
membunuhnya. Ada ahli
pikir dan pendidik yang
hendak memadamkan
garizah karena melihat
seginya yang tidak baik
(jahat) itu, sebab itu
diadakan oleh mereka
macam-macam
peraturan untuk
mengikat kemerdekaan
anak-anak supaya
garizah itu jangan
tumbuh, atau mana yang
telah tumbuh menjadi
mati. Tetapi perbuatan
mereka itu besar
bahayanya terhadap
pertumbuhan akal,
tubuh dan akhlak anak-
anak. Dan bagaimanapun
orang berusaha hendak
membunuh garizah itu,
namun ia tidak akan
mati.
Boleh jadi karena
kerasnya tekanan dan
kuatnya rintangan
terhadap sesuatu
garizah, maka kelihatan
dia telah padam tetapi
manakala ada yang
membangkitkannya,
timbullah dia kembali.
Oleh karena itu
kendatipun garizah itu
dasar bagi kebaikan,
sebagaimana dia juga
dasar bagi kejahatan,
tetapi kewajiban
manusia bukanlah
menghilangkannya,
hanya mendidik dan
melatihnya, supaya
dapat dimanfaatkan dan
disalurkan ke arah yang
baik.
Allah telah
menganugerahkan
kepada manusia
bermacam-macam
garizah untuk jadi
hidayah (petunjuk) yang
akan dipakai dengan
cara bijaksana oleh
manusia itu.
2. Hidayah Pancaindra
Karena garizah itu
sifatnya belum pasti
sebagai disebutkan di
atas, maka ia belum
cukup untuk jadi
hidayah bagi
kebahagiaan hidup
manusia di dunia dan di
akhirat. Sebab itu oleh
Allah swt. manusia
dilengkapi lagi dengan
pancaindra. Pancaindra
itu sangat besar
harganya terhadap
pertumbuhan akal dan
pikiran manusia, sebab
itu ahli-ahli pendidikan
berkata:
ساوحلا باوبأ ةفرعملا
Artinya:
Pancaindra itu adalah
pintu-pintu
pengetahuan.
Maksudnya ialah dengan
jalan pancaindra itulah
manusia dapat
berhubungan dengan
alam yang di luar,
dengan arti bahwa
sampainya sesuatu dari
alam yang di luar ini ke
dalam otak manusia
adalah pintu-pintu
pancaindra itu.
Tetapi garizah ditambah
dengan pancaindra, juga
belum cukup lagi untuk
jadi pokok-pokok
kebahagiaan manusia.
Banyak lagi benda-
benda dalam alam ini
yang tidak dapat dilihat
oleh mata. Banyak
macam suara yang tidak
dapat didengar oleh
telinga. Malah selain dari
alam mahsusat (yang
dapat ditangkap oleh
pancaindra), ada lagi
alam ma'qulat (yang
hanya dapat ditangkap
oleh akal).
Selain dari pancaindra
itu hanya dapat
menangkap alam
mahsusat,
tangkapannya tentang
yang mahsusat itupun
tidak selamanya betul,
kadang-kadang salah.
Inilah yang dinamakan
dalam ilmu jiwa "illusi
optik" (tiupan
pandangan), dalam
bahasa Arab disebut,
"khida'an nazar". Sebab
itu manusia
membutuhkan lagi
hidayah yang kedua itu.
Maka dianugerahkan lagi
oleh Allah hidayah yang
ketiga, yaitu "hidayah
akal".
3. Hidayah akal (pikiran)
a. Akal dan kadar
kesanggupannya
Dengan adanya akal itu
dapatlah manusia
menyalurkan garizah ke
arah yang baik agar
garizah itu menjadi
pokok bagi kebaikan,
dan dapatlah manusia
membetulkan
kesalahan-kesalahan
pancaindranya,
membedakan buruk
dengan baik. Malah
sangguplah dia
menyusun mukadimah
untuk
menyampaikannya
kepada natijah,
mempertalikan akibat
dengan sebab, memakai
yang mahsusat sebagai
tangga kepada yang
ma'qulat,
mempergunakan yang
dapat dilihat, diraba dan
dirasai untuk
menyampaikannya
kepada yang abstrak,
maknawi dan gaib,
mengambil dalil dari
adanya makhluk untuk
adanya khalik, dan
begitulah seterusnya.
Tetapi akal manusia juga
belum lagi memadai
untuk membawanya
kepada kebahagiaan
hidup di dunia dan di
akhirat di samping
berbagai macam garizah
dan pancaindra itu.
Apalagi pendapat akal
itu bermacam-macam,
yang baik menurut
pikiran si A belum tentu
baik menurut pandangan
si B, malah banyak
manusia yang masih
mempergunakan
akalnya, atau akalnya
dikalahkan oleh hawa
nafsu dan sentimennya.
Hingga yang buruk itu
menjadi baik dalam
pandangannya dan yang
baik itu menjadi buruk.
Dengan demikian
nyatalah bahwa garizah
ditambah dengan
pancaindra ditambah
pula dengan akal belum
lagi cukup untuk menjadi
hidayah yang akan
menyampaikan manusia
kepada kebahagiaan
hidup jasmani dan
rohani, di dunia dan
akhirat.
Oleh karena itu manusia
membutuhkan suatu
hidayah lagi, di samping
pancaindra dan akalnya
itu, yaitu hidayah agama
yang dibawa oleh para
rasul `alaihimus shalatu
wassalam.
b. Bibit agama dan
akidah tauhid pada jiwa
manusia
Dalam pada itu kalau
diperhatikan agama-
agama dan
kepercayaan-
kepercayaan yang
diciptakan oleh manusia
(Al-Adyan Al-Wad'iyyah)
kelihatan pada jiwa
manusia telah ada bibit-
bibit suka beragama.
Yang demikian itu
karena manusia itu
mempunyai sifat merasa
berhutang budi suka
berterima kasih dan
membalas budi kepada
orang yang berbuat baik
kepadanya. Maka di kala
diperhatikan dirinya dan
alam yang di
sekelilingnya,
umpamanya roti yang
dimakannya, tumbuh-
tumbuhan yang
ditanamnya, binatang
ternak yang
digembalakannya,
matahari yang
memancarkan sinarnya,
hujan yang turun dari
langit yang
menumbuhkan tanam-
tanaman, akan merasa
berutang budilah dia
kepada "suatu Zat" yang
gaib yang telah berbuat
baik dan melimpahkan
nikmat yang besar itu
kepadanya.
Didapatnyalah dengan
akalnya bahwa Zat yang
gaib itulah yang
menciptakannya, yang
menganugerahkan
kepadanya dan kepada
jenis manusia
seluruhnya, segala
sesuatu yang ada di
alam ini, segala sesuatu
yang dibutuhkannya
untuk memelihara diri
dan mempertahankan
hidupnya.
Karena dia merasa
berutang budi kepada
suatu Zat Yang Gaib itu,
maka dipikirkannyalah
bagaimana cara
berterima kasih dan
membalas budi itu, atau
dengan perkataan lain
bagaimana cara
"menyembah Zat Yang
Gaib itu".
Akan tetapi masalah
bagaimana cara
menyembah Zat Yang
Gaib itu, adalah suatu
masalah yang sukar,
yang tidak dapat dicapai
oleh akal manusia. Sebab
itu di dalam sejarah
kelihatan bahwa tidak
pernah adanya
keseragaman dalam hal
ini. Bahkan akal
pikirannya akan
membawanya kepada
kepercayaan
membesarkan alam di
samping membesarkan
Zat Yang Gaib itu.
Karena pikirannya masih
bersahaja dan karena
belum dapat dia
menggambarkan di
otaknya bagaimana
menyembah "Zat Yang
Gaib", maka dipilihlah di
antara alam ini sesuatu
yang besar, atau yang
indah, atau yang banyak
manfaatnya, atau
sesuatu yang
ditakutinya untuk jadi
pelambang bagi Zat Yang
Gaib itu.
Pernah dia mengagumi
matahari, bulan dan
bintang-bintang, atau
sungai-sungai, binatang
dan lain-lain, maka
disembahnyalah benda-
benda itu, sebagai
lambang bagi
menyembah Tuhan atau
Zat Yang Gaib itu, dan
diciptakannyalah cara-
cara beribadah
(menyembah) benda-
benda itu.
Dengan ini timbullah pula
suatu macam
kepercayaan, yang
dinamakan
"Kepercayaan
menyembah kekuatan
alam", sebagai yang
terdapat di Mesir,
Kaldania, Babilonia,
Assyiria dan di tempat-
tempat lain di zaman
purbakala.
Dengan keterangan itu
kelihatanlah bahwa
manusia menurut
fitrahnya suka
beragama, suka
memikirkan dari mana
datangnya alam ini, dan
ke manakah kembalinya.
Bila dia memikirkan dari
mana datangnya alam
ini, akan sampailah dia
pada keyakinan tentang
adanya Tuhan, bahkan
akan sampailah dia
kepada keyakinan
tentang keesaan Tuhan
itu (tauhid), karena
akidah (keyakinan)
tentang keesaan inilah
yang lebih mudah, dan
lebih lekas dipahami oleh
akal manusia. Karena itu
dapatlah kita tegaskan
bahwa manusia itu
menurut nalurinya
adalah beragama tauhid.
Sejarah telah
menerangkan bahwa
bangsa Kaldania pada
mulanya adalah
beragama tauhid,
barulah kemudian
mereka menyembah
matahari, planet- planet
dan bintang-bintang
yang mereka simbolkan
dengan patung-patung.
Sesudah Raja Namruz
meninggal, mereka pun
mendewakan dan
menyembah Namruz itu.
Bangsa Assyiria pun
pada asalnya beragama
tauhid, kemudian
mereka telah lupa
kepada akidah tauhid itu
dan mereka
persekutukanlah Tuhan
dengan binatang-
binatang, dan inilah yang
dipusakai oleh orang-
orang Babilonia.
Adapun bangsa Mesir,
maka bila diperhatikan
nyanyian-nyanyian yang
mereka nyanyikan dalam
upacara-upacara
peribadatan, jelaslah
bahwa bukan seluruh
bangsa Mesir purbakala
itu orang-orang musyrik
dan wasani, melainkan di
antara mereka juga ada
orang-orang
muwahhidin, penganut
akidah tauhid. Di dalam
nyanyian-nyanyian itu
terdapat ungkapan
berikut:
"Dialah Tuhan Yang
Maha Esa, yang tiada
sekutu bagi-Nya"
"Dia mencintai seluruh
makhluk, sedang dia
sendiri tak ada yang
menciptakan-Nya"
"Dialah Tuhan Yang
Maha Agung, Pemilik
langit dan bumi dan
pencipta seluruh
makhluk"
Umat manusia yang
dengan akalnya itu telah
sampai kepada akidah
tauhid. Akidah tauhid ini
sering menjadi kabur,
atau tidak murni lagi, dan
jadilah
mempersekutukan
Tuhan yang menonjol di
antara mereka. Biar pun
pendeta-pendeta
mereka masih tetap
dalam ketauhidannya,
akan tetapi pendeta-
pendeta ini kadang-
kadang takut atau
segan untuk
memberantas
kepercayaan
mempersekutukan
Tuhan itu, bahkan ikut
hanyut dalam arus
masyarakat, yakni arus
mempersekutukan
Tuhan.
Dapat ditegaskan
bahwa akidah tauhid ini
tidak pernah lenyap
sama sekali, melainkan
kepercayaan kepada
adanya suatu Zat Yang
Maha Esa itu tetap ada.
Dialah Pencipta seluruh
yang ada ini. Tuhan-
tuhan atau dewa-dewa
yang lain itu mereka
anggap hanyalah
sebagai pembantu dan
pelayan atau simbol
Yang Maha Esa itu.
c. Pendapat Bangsa Arab
sebelum Islam tentang
Khalik (Pencipta)
Bangsa Arab sendiri pun
sebelum datang agama
Islam, kalau ditanyakan
kepada mereka,
"Siapakah yang
menjadikan langit dan
bumi ini?" Mereka
menjawab, "Allah." Dan
kalau ditanyakan,
"Adakah Al-Lata dan Al-
Uzza itu menjadikan
sesuatu yang ada alam
ini"? Mereka menjawab,
"Tidak." Mereka sembah
dewa-dewa itu hanya
untuk mengharapkan
perantaraan dan
syafaat dari mereka
terhadap Tuhan yang
sebenarnya. Allah swt.
berfirman menceritakan
perkataan musyrikin
Arab itu:
اَم ْمُهُدُبْعَن
اَّلِإ
اَنوُبِّرَقُيِل
ىَلِإ ِهَّللا
ىَفْلُز
Artinya:
Kami tidak menyembah
mereka melainkan
supaya mereka
mendekatkan
(kedudukan) kami
kepada Allah dengan
sedekat-dekatnya. (Q.S
Az Zumar: 3)
d. Kepercayaan tentang
akhirat bisa dicapai oleh
akal
Manakala manusia itu
memikirkan ke manakah
kembalinya alam ini,
akan sampailah dia pada
keyakinan bahwa di
balik hidup di dunia yang
fana ini akan ada lagi
hidup di hari kemudian
yang kekal dan abadi.
Tetapi dapatkah
manusia dengan akal
dan pikirannya semata-
mata mengetahui
apakah yang perlu
dikerjakan atau
dijauhinya sebagai
persiapan untuk
kebahagiaan di hari
kemudian (hari akhirat)
itu? Jawabnya tentu
saja tidak, sejarah pun
telah membuktikan hal
ini.
Dengan demikian
dapatlah disimpulkan
bahwa manusia telah
diberi Allah akal untuk
jadi hidayah baginya, di
samping garizah dan
pancaindra. Tetapi
hidayah akal itu
belumlah mencukupi
untuk kebahagiaan
hidupnya di dunia dan
akhirat.
Begitu juga manusia
mempunyai tabiat suka
beragama, dan dengan
akalnya dia kadang-
kadang telah sampai
kepada tauhid. Akan
tetapi tauhid yang telah
dicapainya dengan
akalnya itu sering pula
menjadi kabur dan tidak
murni lagi.
Dalam pada itu manusia
dengan mempergunakan
akalnya juga dapat
sampai kepada
kesimpulan tentang
adanya akhirat, akan
tetapi hidayah akal itu
belumlah mencukupi
untuk kebahagiaan
hidupnya di dunia dan
akhirat. Maka untuk
menyampaikan manusia
kepada akidah tauhid
yang murni, yang tidak
dicampuri sedikit juga
oleh kepercayaan-
kepercayaan
menyembah dan
membesarkan selain
Allah, dan untuk
membentangkan jalan
yang benar yang akan
ditempuhnya dalam
perjalanan mencari
kebahagiaan hidup di
dunia dan akhirat dan
untuk jadi pedoman bagi
hidupnya di dunia ini, dia
membutuhkan hidayah
yang lain di samping
hidayah-hidayah yang
telah disebutkan itu.
Maka didatangkanlah
oleh Allah hidayah yang
keempat yaitu "agama"
yang dibawa oleh para
rasul.
4. Hidayah agama
a. Pokok-pokok agama
ketuhanan
Karena hal-hal yang
disebutkan itu, maka
diutuslah oleh Allah
rasul-rasul untuk
membawa agama yang
akan menunjukkan
kepada manusia jalan
yang harus mereka
tempuh untuk
kebahagiaan mereka
dunia dan akhirat.
Adalah yang mula-mula
ditanamkan oleh rasul-
rasul itu kepercayaan
tentang adanya Tuhan
Yang Maha Esa dengan
segala sifat-sifat
kesempurnaan-Nya,
guna membersihkan
iktikad manusia dari
kotoran syirik
(mempersekutukan
Tuhan).
Rasul membawa manusia
kepada kepercayaan
tauhid itu dengan melalui
akal dan logika, yaitu
dengan mempergunakan
dalil-dalil yang tepat dan
logis. (Ingatlah kepada
soal-jawab antara Nabi
Ibrahim dengan Namruz,
Nabi Musa dengan
Firaun, dan seruan-
seruan Alquran kepada
kaum musyrikin Quraisy
agar mereka
mempergunakan akal).
Di samping kepercayaan
kepada adanya Tuhan
Yang Maha Esa, rasul-
rasul juga membawa
kepercayaan tentang
akhirat dan malaikat-
malaikat.
Percayakepada adanya
Tuhan Yang Maha Esa
dengan segala sifat-
sifat kesempurnaan-
Nya, serta adanya
malaikat dan hari
kemudian itu, itulah yang
dinamakan Al-Iman bil
Gaib (percaya kepada
yang gaib). Dan itulah
yang jadi pokok bagi
semua agama
Ketuhanan, dengan arti
bahwa semua agama
yang datangnya dari
Tuhan mempercayai
keesaan Tuhan, serta
malaikat dan hari
akhirat.
Di samping `aqaid
(kepercayaan-
kepercayaan) yang
disebutkan itu, rasul-
rasul juga membawa
hukum-hukum,
peraturan-peraturan,
akhlak dan pelajaran-
pelajaran.
Hukum-hukum dan
peraturan-peraturan ini
berlain-lainan, artinya
apa yang diturunkan
kepada Nabi Ibrahim
tidak sama dengan yang
diturunkan kepada Nabi
Musa, dan apa yang
dibawa oleh Nabi Isa
tidak serupa dengan
yang dibawa oleh Nabi
Muhammad saw.
Sebabnya ialah karena
hukum-hukum dan
peraturan-peraturan itu
haruslah sesuai dengan
keadaan tempat dan
masa. Maka syariat yang
dibawa oleh nabi-nabi itu
adalah sesuai dengan
masanya masing-masing.
Jadi yang berlain-lainan
itu ialah hukum-hukum
furu` (cabang-cabang),
sedangkan pokok-pokok
hukum agama seperti
akidah adalah sama.
Berhubung Muhammad
saw. adalah seorang
nabi penutup maka
syariat yang dibawanya,
diberi oleh Tuhan sifat-
sifat tertentu agar
sesuai dengan segala
masa dan keadaan.
b. Hidayah yang
dimohonkan kepada
Tuhan
Agama Islam sebagai
hidayah dan senjata
hidup yang penghabisan,
atau jalan kebahagiaan
yang terakhir, telah
dianugerahkan Tuhan,
tetapi adakah orang
pandai mempergunakan
senjata itu, dan adakah
semua hamba Allah
sukses dalam menempuh
jalan yang dibentangkan
oleh Tuhan.
Tidak banyak manusia
yang pandai
menerapkan agama,
beribadat (menyembah
Allah) sebagai yang
diridai oleh yang
disembah, bahkan
pelaksanaan syariat
tidak sesuai dengan
yang dimaksud oleh
Pembuat syariat itu.
Karena itu kita diajari
Allah memohonkan
kepada-Nya agar diberi-
Nya ma`unah, dibimbing
dan dijaga-Nya selama-
lamanya serta diberi-
Nya taufik agar dapat
memakai semua macam
hidayah yang telah
dianugerahkan-Nya itu
menurut semestinya.
Garizah-garizah supaya
dapat disalurkan ke arah
yang baik, pancaindra
supaya berfungsi betul,
akal supaya sesuai
dengan yang benar,
tuntunan-tuntunan
agama agar dapat
dilaksanakan menurut
yang dimaksud oleh
yang menurunkan
agama itu dengan tidak
ada cacat, janggal dan
salah.
Tegasnya manusia yang
telah diberi Tuhan
bermacam-macam
hidayah yang
disebutkan di atas
(garizah-garizah,
pancaindra, akal dan
agama) belum dapat
mencukupkan semata-
mata hidayah-hidayah
itu saja, tetapi dia masih
membutuhkan ma`unah
dan bimbingan dari Allah
(yaitu taufik-Nya).
Maka ma`unah dan
bimbingan itulah yang
kita mohonkan dan
kepada Allah sajalah kita
hadapkan permohonan
itu.
Dengan perkataan lain,
Allah telah memberi kita
hidayah-hidayah
tersebut, tak ubahnya
seakan-akan Dia telah
membentangkan di muka
kita jalan raya yang
menyampaikan kepada
kebahagiaan hidup
duniawi dan ukhrawi,
maka yang dimohonkan
kepada-Nya lagi ialah
"membimbing kita dalam
menjalani jalan yang
telah terbentang itu".
Dengan ringkas hidayah
dalam ayat
"ihdinassiratal
mustaqim" ini berarti
"taufik" (bimbingan), dan
taufik itulah yang
dimohonkan di sini
kepada Allah.
Taufik ini dimohonkan
kepada Allah sesudah
kita berusaha dengan
sepenuh tenaga, pikiran
dan ikhtiar, karena
berusaha dengan
sepenuh tenaga adalah
kewajiban kita, tetapi
sampai berhasil sesuatu
usaha adalah termasuk
kekuasaan Allah. Dengan
ini kelihatanlah pertalian
ayat ini dengan ayat
yang sebelumnya. Ayat
yang sebelumnya Allah
mengajari hamba-Nya
supaya menyembah
memohonkan
pertolongan kepada-
Nya, sedangkan pada
ayat ini Allah
menerangkan apa yang
akan dimohonkan, dan
bagaimana
memohonkannya.
Maka tak ada
pertentangan antara
kedua firman Allah
tersebut dan firman
Allah yang ditujukan
kepada Nabi yang
berbunyi:
َكَّنِإَو يِدْهَتَل
ىَلِإ ٍطاَرِص
ٍميِقَتْسُم
Artinya:
Dan sesungguhnya kamu
benar-benar memberi
petunjuk kepada jalan
yang lurus. (Q.S Asy
Syura: 52)
Dan firman-Nya:
َكَّنِإ اَل يِدْهَت
ْنَم َتْبَبْحَأ
َّنِكَلَو َهَّللا
يِدْهَي ْنَم
ُءاَشَي
Artinya:
Sesungguhnya kamu
tidak akan dapat
memberi petunjuk
kepada orang yang
kamu kasihi tetapi
Allahlah yang dapat
memberi petunjuk
kepada orang yang
dikehendaki-Nya. (Q.S Al
Qasas: 56)
Sebab yang dimaksud
dengan hidayah pada
ayat pertama, ialah
menunjukkan jalan yang
harus ditempuh, dan ini
memang adalah tugas
nabi. Tetapi yang
dimaksud dengan
hidayah pada ayat
kedua ialah membimbing
manusia dalam
menempuh jalan itu dan
memberikan taufik agar
sukses dan berbahagia
dalam perjalanannya,
dan ini tidaklah masuk
dalam kekuasaan Nabi,
hanya adalah hak Allah
semata-mata.
َطاَرِّصلا
َميِقَتْسُمْلا )6(
Artinya:
Jalan yang lurus (yang
menyampaikan kepada
yang dituju). (Q.S Al
Fatihah: 6)
Apakah yang dimaksud
dengan jalan lurus itu?
Di atas telah
diterangkan bahwa
rasul-rasul telah
membawa `aqaid
(kepercayaan-
kepercayaan) hukum-
hukum, peraturan-
peraturan, akhlak, dan
pelajaran-pelajaran.
Pendeknya telah
membawa segala
sesuatu yang perlu
untuk kebahagiaan
hidup manusia di dunia
dan akhirat.
Maka aqaid, hukum-
hukum, peraturan-
peraturan, akhlak dan
pelajaran-pelajaran
itulah yang dimaksud
dengan jalan lurus itu,
karena dialah yang
menyampaikan manusia
kepada kebahagiaan
hidup di dunia dan
akhirat sebagai
disebutkan.
Jadi dengan menyebut
ayat ini seakan-akan
kita memohon kepada
Tuhan: "Bimbing dan beri
taufiklah kami, ya Allah
dalam melaksanakan
ajaran-ajaran agama
kami. Betulkanlah
kepercayaan kami.
Bimbing dan beri
taufiklah kami dalam
melaksanakan
kepercayaan kami.
Bimbing dan beri
taufiklah kami dalam
melaksanakan hukum,
peraturan-peraturan,
serta pelajaran-
pelajaran agama kami.
Jadikanlah kami
mempunyai akhlak yang
mulia, agar berbahagia
hidup kami di dunia dan
akhirat".

Tafsir Depag RI :QS 001 - AlFaatihah 5

Tafsir Depag RI : QS 001 - Al
Faatihah 5
َكاَّيِإ ُدُبْعَن
َكاَّيِإَو
ُنيِعَتْسَن )5(
Di dalam ayat-ayat yang
telah disebutkan empat
macam dari sifat-sifat
Tuhan, yaitu:
Pendidik semesta alam
Maha Pemurah
Maha Penyayang
Dan Yang menguasai
hari pembalasan.
Sifat-sifat yang disebutkan
itu adalah sifat-sifat
kesempurnaan yang hanya
Allah sajalah yang
mempunyainya. Sebab itu
pada ayat ini Allah
mengajarkan kepada
hamba-Nya bahwa Allah
sajalah yang patut
disembah, dan kepada-Nya
sajalah seharusnya
manusia memohonkan
pertolongan, dan bahwa
hamba-Nya haruslah
mengikrarkan yang
demikian itu.
"Iyyaka" (hanya kepada
Engkaulah).
Susunan ayat-ayat ini
membawa pengertian
"pengkhususan" yaitu
pengkhususan "ibadah"
kepada Allah.
Jadi arti ayat ini: "Kepada
Engkau sajalah kami tunduk
dan berhina diri, dan kepada
Engkau sajalah kami
memohonkan suatu
pertolongan".
Pertolongan yang khusus
dimohonkan kepada Allah
ialah tentang sesuatu yang
di luar kemampuan dan
kekuasaan manusia.
"Iyyaka" dalam ayat ini
diulang dua kali, gunanya
untuk menegaskan bahwa
ibadat dan isti`anah itu
masing-masing khusus
dihadapkan kepada Allah.
Selain dari itu untuk dapat
mencapai kelezatan
munajat (berbicara) dengan
Allah. Karena bagi seorang
hamba Allah yang
menyembah dengan
segenap jiwa dan raganya
tak ada yang lebih nikmat
dan lezat pada perasaannya
daripada bermunajat
dengan Allah.
Baik juga diketahui bahwa
dengan memakai "Iyyaka"
itu berarti menghadapkan
pembicaraan kepada Allah,
dengan maksud
menghadirkan Allah swt.
dalam ingatan, seakan-
akan Dia berada di muka
kita, dan kepada-Nya
dihadapkan pembicaraan
dengan khusyuk dan
tawaduk. Seakan-akan kita
berkata:
"Ya Allah, Zat yang wajibul
wujud. Yang bersifat
dengan segala sifat
kesempurnaan. Yang
menjaga dan memelihara
semesta alam. Yang
melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya dengan
berlipat ganda. Yang
berkuasa di hari
pembalasan. Engkau
sajalah yang kami sembah,
dan kepada Engkau sajalah
kami meminta pertolongan.
Karena hanya Engkau yang
berhak disembah dan hanya
Engkau yang dapat
menolong kami".
Dengan cara yang seperti
itu orang akan lebih
khusyuk di dalam
menyembah Allah dan lebih
tergambar kepadanya
kebesaran Yang
disembahnya itu.
Inilah yang dimaksud oleh
Rasulullah saw. dengan
sabdanya:
نأ دبعت هللا كنأك هارت
Artinya:
Hendaklah engkau
menyembah Allah itu
seakan-akan engkau
melihat-Nya. (H.R Bukhari
dan Muslim dari Umar bin
Khattab)
Karena surah Al-Fatihah
mengandung ayat munajat
(berbicara) dengan Allah
menurut cara yang
diterangkan merupakan
rahasia diwajibkan
membacanya tiap-tiap
rakaat dalam salat, karena
itu jiwanya ialah munajat
dengan menghadapkan diri
dan memusatkan ingatan
kepada Allah.
"Na'budu" pada ayat ini
didahulukan
menyebutkannya dari
"nasta`iinu", karena
menyembah Allah itu adalah
suatu kewajiban manusia
terhadap Tuhannya. Tetapi
pertolongan dari Tuhan
kepada seseorang hamba-
Nya adalah hak hamba itu.
Maka seakan-akan Tuhan
mengajar hamba-Nya
supaya menunaikan
kewajibannya lebih dahulu,
sebelum ia menuntut
haknya.
Melihat kata-kata
"na`budu" dan
"nasta`iinu" (kami
menyembah, kami minta
tolong), bukan a`budu" dan
"asta`iinu" (saya
menyembah dan saya
minta tolong) adalah untuk
memperlihatkan kelemahan
manusia itu, dan tidak
selayaknya mengemukakan
dirinya seorang saja dalam
menyembah dan memohon
pertolongan kepada Allah,
seakan-akan penunaian
kewajiban beribadat dan
permohonan pertolongan
kepada Allah itu belum lagi
sempurna kecuali kalau
dikerjakan dengan
bersama-sama.
Kedudukan tauhid di dalam
ibadat dan sebaliknya
Arti "ibadat" sebagai
disebutkan di atas ialah
tunduk dan berhina diri
kepada Allah, yang
disebabkan oleh kesadaran
bahwa Allah yang
menciptakan alam ini, Yang
menumbuhkan, Yang
mengembangkan, Yang
menjaga dan memelihara
serta Yang membawanya
dari suatu keadaan kepada
keadaan yang lain hingga
tercapai kesempurnaannya.
Tegasnya ibadat itu
timbulnya dari perasaan
tauhid, maka orang yang
suka memikirkan keadaan
alam ini, yang
memperhatikan perjalanan
bintang-bintang, kehidupan
tumbuh-tumbuhan,
binatang dan manusia,
bahkan yang mau
memperhatikan dirinya
sendiri, yakinlah dia bahwa
di balik alam yang zahir ada
Zat yang gaib yang
mengendalikan alam ini,
yang bersifat dengan
segala sifat kesempurnaan,
yakni Dialah Yang Maha
Kuasa, Maha Pengasih,
Maha Mengetahui dan
sebagainya. Maka
tumbuhlah dalam
sanubarinya perasaan
bersyukur dan berutang
budi kepada Zat Yang Maha
Kuasa, Maha Pengasih dan
Maha Mengetahui itu.
Perasaan inilah yang
menggerakkan bibirnya
untuk menuturkan puji-
pujian, dan yang
mendorong jiwa dan
raganya untuk menyembah
dan berhina diri kepada
Allah Yang Maha Kuasa itu
sebagai pernyataan
bersyukur dan membalas
budi kepada-Nya.
Tetapi ada juga manusia
yang tidak mau berpikir,
dan selanjutnya tidak sadar
akan kebesaran dan
kekuasaan Tuhan, sering
melupakan-Nya, sebab
itulah maka tiap-tiap
agama disyariatkan
bermacam-macam ibadat,
gunanya untuk
mengingatkan manusia
kepada kebesaran dan
kekuasaan Allah itu.
Dengan keterangan ini
kelihatanlah bahwa tauhid
dan ibadat itu pengaruh-
mempengaruhi dengan arti
tauhid menumbuhkan
ibadat dan ibadat memupuk
tauhid.
Pengaruh ibadat terhadap
jiwa manusia
Tiap-tiap ibadat yang
dikerjakan karena didorong
oleh perasaan yang
disebutkan itu, niscaya ada
kesannya kepada tabiat
dan budi pekerti orang yang
beribadat itu. Umpamanya
orang yang mendirikan
salat karena sadar akan
kebesaran dan kekuasaan
Allah, dan didorong oleh
perasaan bersyukur dan
berutang budi kepada-Nya,
akan terjauhlah dia dari
perbuatan-perbuatan yang
tidak baik, yang dilarang
Allah. Dengan demikian
salatnya itu akan
mencegahnya dari
mengerjakan perbuatan-
perbuatan yang tidak baik
itu, sesuai dengan firman
Allah swt.:
َّنِإ َةاَلَّصلا
ىَهْنَت ِنَع
ِءاَشْحَفْلا
Artinya:
Sesungguhnya salat itu
mencegah dari perbuatan
keji dan mungkar. (Q.S Al
Ankabut: 45)
Begitu juga ibadat puasa.
Ibadat ini akan
menimbulkan perasaan
cinta dan kasih sayang
terhadap orang-orang yang
melarat dan miskin pada
diri orang yang berpuasa
itu. Dan seterusnya dengan
ibadat-ibadat yang lain.
Tetapi ibadat yang bukan
ditimbulkan oleh keyakinan
kepada kebesaran dan
kekuasaan Allah, dan bukan
pula didorong oleh perasaan
bersyukur dan berutang
budi kepada Allah itu, hanya
karena turut-turutan, atau
karena memelihara tradisi
yang sudah turun-temurun,
bukanlah ibadat yang
sebenarnya, dan
kendatipun dia mempunyai
rupa dan bentuk ibadat,
tetapi tidak ada mempunyai
jiwa ibadat itu, tak ubahnya
dengan gambar atau
patung, bagaimana pun
juga miripnya dengan
manusia, tidaklah dinamai
manusia. Selanjutnya
ibadat yang semacam itu
tidak ada kesan dan
buahnya kepada tabiat dan
akhlak orang yang
beribadat itu.
Berusahaberdoa dan
bertawakal
"Isti`anah" (memohon
pertolongan) sebagai
disebutkan di atas khusus
dihadapkan kepada Allah,
dengan arti bahwa tidak
ada yang berhak
dimohonkan
pertolongannya kecuali
Allah.
Dalam pada itu, pada ayat
yang lain Allah menyuruh
manusia bertolong-
tolongan dalam
mengerjakan kebaikan.
Allah berfirman:
اوُنَواَعَتَو ىَلَع
ِّرِبْلا
ىَوْقَّتلاَو
Artinya:
Dan tolong-menolonglah
kamu dalam (mengerjakan)
kebaikan dan takwa. (Q.S Al
Ma'idah: 2)
Adakah pertentangan
antara dua ayat itu? Tidak
Tercapainya sesuatu
maksud, atau
terlaksananya suatu
pekerjaan dengan baik
adalah tergantung kepada
cukupnya syarat-syarat
yang dibutuhkan dalam
melaksanakan pekerjaan
itu, dan tidak adanya
rintangan-rintangan yang
akan menghalanginya.
Manusia telah diberi Allah
tenaga, baik yang berupa
pikiran maupun yang
berupa kekuatan tubuh,
untuk dipakai guna
mencukupkan syarat-
syarat, atau menolak
rintangan-rintangan dalam
menuju suatu maksud, atau
mengerjakan sesuatu
pekerjaan. Tetapi ada di
antara syarat-syarat itu
yang tidak kuasa manusia
mencukupkannya,
sebagaimana di antara
rintangan itu ada yang di
luar kekuasaan manusia
menolaknya. Begitu pula
ada di antara syarat-syarat
itu atau di antara halangan-
halangan itu yang tidak
dapat diketahui. Maka
kendatipun menurut
pikirannya dia telah
mencukupkan semua
syarat-syarat yang
diperlukan, dan telah
menjauhkan semua
rintangan-rintangan yang
menghalangi, tetapi hasil
pekerjaannya itu belum lagi
sebagai yang dicita-
citakannya. Jadi ada hal-hal
yang tidak masuk dalam
batas kekuasaan dan
kemampuan manusia. Itulah
yang dimintakan
pertolongan khusus kepada
Allah. Sebaiknya tentang
sesuatu yang termasuk
dalam batas kekuasaan dan
kemampuan manusia, dia
disuruh bertolong-tolongan,
supaya tenaga menjadi
kuat, dan agar ada pada
masing-masing manusia
sifat cinta-mencintai,
harga-menghargai, dan
gotong-royong.
Dengan perkataan lain,
manusia disuruh Allah
berusaha dengan sekuat
tenaga, dan disuruh tolong-
menolong, bantu-
membantu. Di samping
menjalankan ikhtiar dan
usahanya itu, dia harus pula
berdoa, memohon taufik,
hidayah dan ma`unah. Ini
hendaknya dimohonkannya
khusus kepada Allah,
karena hanyalah Dia yang
kuasa memberinya.
Sesudah itu semua, barulah
dia bertawakal kepada-
Nya.
Ibadat itu sendiri pun
sesuatu pekerjaan yang
berat, sebab itu haruslah
dimintakan ma`unah dari
Allah supaya semua ibadat
terlaksana sebagai yang
dimaksud oleh agama.
Maka seseorang
menuturkan bahwa hanya
kepada Allahlah kita
beribadat, diikuti lagi
dengan pernyataan bahwa
kepada-Nya saja minta
pertolongan, terutama
pertolongan agar amal
ibadat terlaksana
sebagaimana mestinya.
Ayat di atas, sebagai telah
disebutkan, mengandung
tauhid, karena beribadat
semata-mata kepada Allah
dan meminta ma`unah
khusus kepada-Nya, adalah
intisari agama, dan
kesempurnaan tauhid.
Ibadat itu sendiri pun
sesuatu pekerjaan yang
berat, sebab itu haruslah
dimintakan ma`unah dari
Allah supaya semua ibadat
terlaksana sebagai yang
dimaksud oleh agama.
Maka seseorang
menuturkan bahwa hanya
kepada Allahlah kita
beribadat, diikuti lagi
dengan pernyataan bahwa
kepada-Nya saja minta
pertolongan, terutama
pertolongan agar amal
ibadat terlaksana
sebagaimana mestinya.
Ayat di atas, sebagai telah
disebutkan, mengandung
tauhid, karena beribadat
semata-mata kepada Allah
dan meminta ma`unah
khusus kepada-Nya, adalah
intisari agama, dan
kesempurnaan tauhid.

Tafsir Depag RI :QS 001 - AlFaatihah 4

Tafsir Depag RI : QS 001 - Al
Faatihah 4
ِكِلاَم ِمْوَي
ِنيِّدلا )4(
Sesudah Allah swt.
menyebutkan beberapa
sifat-Nya, yaitu: Tuhan
semesta alam, Yang Maha
Pemurah, Maha Penyayang,
maka diiringi-Nya dengan
menyebutkan satu sifat-
Nya lagi, yaitu menguasai
hari pembalasan.
"Malik" berarti "Yang
Menguasai"
Ada dua macam bacaan
berkenaan dengan "Malik",
pertama dengan
memanjangkan "Maa",
kedua dengan
memendekkannya.
Menurut bacaan yang
pertama, "Maalik" artinya:
Yang memiliki (yang
empunya). Sedang menurut
bacaan yang kedua, artinya:
Raja; kedua-dua bacaan itu
dibolehkan.
Baik menurut bacaan yang
pertama, atau pun bacaan
yang kedua, dapat dipahami
dari kata itu arti "berkuasa"
dan bertindak dengan
sepenuhnya. Sebab itulah
maka diterjemahkan
dengan: "Yang menguasai".
"Yaum", (hari) artinya,
tetapi yang dimaksud di sini
ialah waktu secara mutlak.
"Ad-Din" itu banyak artinya,
di antaranya:
1. Perhitungan
2. Ganjaran,
pembalasan
3. Patuh
4. Menundukkan
5. Syariat, agama
Yang selaras di sini ialah
dengan arti "pembalasan".
Jadi "Maaliki yaumiddin"
maksudnya "Tuhan itulah
yang berkuasa dan yang
dapat bertindak dengan
sepenuhnya terhadap
semua makhluk-Nya pada
hari pembalasan itu".
Sebetulnya pada hari
kemudian itu banyak hal-
hal yang terjadi, yaitu hari
kiamat, hari berbangkit,
hari berkumpul, hari
perhitungan, hari
pembalasan, tetapi
pembalasan sajalah yang
disebut oleh Tuhan di sini,
karena itulah yang
terpenting. Yang lain dari
itu, umpamanya kiamat,
berbangkit dan seterusnya,
pendahuluan dari
pembalasan itu, apalagi
untuk targib dan tarhib
(menarik dan menakuti)
dengan menyebut "hari
pembalasan" itulah yang
lebih tepat.
Hari akhirat menurut
pendapat akal (filsafat)
Kepercayaan tentang
adanya hari akhirat, yang di
hari itu akan diadakan
perhitungan terhadap
perbuatan manusia di masa
hidupnya dan diadakan
pembalasan yang setimpal,
adalah suatu kepercayaan
yang sesuai dengan akal.
Sebab itu adanya hidup
yang lain, sesudah hidup di
dunia ini bukanlah saja
ditetapkan oleh agama,
malah juga ditunjukkan
oleh akal.
Seseorang yang mau
berpikir tentu akan merasa
bahwa hidup di dunia ini
belumlah sempurna, perlu
disambung dengan hidup
yang lain. Alangkah
banyaknya hidup di dunia ini
orang yang teraniaya telah
pulang ke rahmatullah
sebelum mendapat
keadilan. Alangkah
banyaknya orang yang
berjasa, biar kecil atau
besar, belum mendapat
penghargaan terhadap
jasanya. Alangkah
hanyaknya orang yang
telah berusaha, memeras
keringat dan peluh,
membanting tulang tetapi
belum sempat lagi merasa
buah usahanya itu.
Sebaliknya, alangkah
banyaknya penjahat-
penjahat, penganiaya,
pembuat onar yang tak
dapat dipegang oleh
pengadilan di dunia ini.
Lebih-lebih kalau yang
melakukan kejahatan atau
aniaya itu orang yang
berkuasa sebagai raja,
pembesar dan lain-lain.
Maka biar pun kejahatan
dan aniaya itu telah meratai
bangsa seluruhnya tiadalah
digugat orang, malah dia
tetap dipuja dan dihormati.
Victor Hugo (1802-1885)
pernah menyindir keadaan
ini dengan katanya,
"Membunuh seorang
manusia dalam rimba
adalah satu dosa yang tak
dapat diampuni, tetapi
membunuh suatu bangsa
seluruhnya adalah satu soal
yang masih dapat
dipertimbangkan." Maka di
manakah akan didapat
gerangan keadilan itu, kalau
tidak ada nanti mahkamah
yang lebih tinggi, yaitu
mahkamah Allah di hari
kemudian.
Sebab itu ahli-ahli pikir dari
zaman dahulu telah ada
yang sampai kepada
kepercayaan tentang
adanya hari akhirat itu,
semata-mata dengan jalan
berpikir. Antara lain
Pythagoras; filosof ini
berpendapat bahwa hidup
di dunia ini persediaan hidup
yang abadi di akhirat kelak.
Sebab itu semenjak dari
dunia hendaklah orang
bersedia untuk hidup yang
abadi ini. Socrates, Plato
dan Aristoteles, "Jiwa yang
baik akan merasai
kenikmatan dan kelezatan
di akhirat, tetapi bukan
kelezatan kebendaan,
karena kelezatan
kebendaan itu terbatas dan
mendatangkan bosan dan
jemu. Hanya kelezatan
rohani yang bagaimana pun
banyak dan lamanya,
tiadalah menyebabkan
bosan dan jemu."
Kepercayaan Bangsa Arab
Sebelum Islam tentang hari
akhirat
Di antara bangsa Arab
sebelum datang agama
Islam didapati beberapa ahli
pikir dan pujangga-
pujangga yang telah
mempercayai adanya hari
kemudian itu. Umpamanya
Zuhair bin Abu Sulma yang
meninggal dunia setahun
sebelum Nabi Muhammad
saw. diutus Allah. Pujangga
ini pernah berkata yang
artinya:
Sesuatu pekerti atau
perbuatan seseorang yang
menurut dugaannya tidak
diketahui orang, pasti
diketahui juga oleh Tuhan.
Sebab itu janganlah
disembunyikan kepada
Allah sesuatu yang ada
pada dirimu, karena
bagaimanapun kamu
menyembunyikan, niscaya
Allah akan mengetahuinya.
Dilambatkan membalasnya,
maka ditulislah dalam buku
disimpan sampai "hari
perhitungan", atau
disegerakan maka diberi
balasan. \s
Ada pula di antara mereka
yang tidak mempercayai
adanya hari kemudian itu.
Dengarlah apa yang
dikatakan oleh salah
seorang penyair mereka:
"Hidup, sudah itu mati,
sudah itu dibangkit lagi,
itulah cerita dongeng hai
fulan".
Karena itu, datanglah
agama Islam membawa
kepastian tentang adanya
hari kemudian. Di hari akan
dihisab semua perbuatan
yang telah dikerjakan
manusia selama hidupnya
biar pun besar atau kecil.
Allah swt. berfirman:
ْنَمَف ْلَمْعَي
َلاَقْثِم ٍةَّرَذ
اًرْيَخ ُهَرَي )7(
ْنَمَو ْلَمْعَي
َلاَقْثِم ٍةَّرَذ
اًّرَش ُهَرَي )8(
Artinya:
Barang siapa yang
mengerjakan kebaikan
seberat zarrah pun niscaya
dia akan melihat
(balasan)nya. Dan barang
siapa mengerjakan
kejahatan seberat zarah
pun niscaya akan melihat
(balasan)nya pula. (Q.S Az
Zalzalah: 7-8)

Tafsir Depag RI :QS 001 - AlFaatihah 3

Tafsir Depag RI : QS 001 - Al
Faatihah 3
ِنَمْحَّرلا
ِميِحَّرلا )3(
Pada ayat dua di atas Allah
swt. menerangkan bahwa
Dia adalah Tuhan semesta
alam. Maka untuk
mengingatkan hamba
kepada nikmat dan karunia
yang berganda-ganda, yang
telah dilimpahkan-Nya,
serta sifat dan cinta kasih
sayang yang abadi pada
diri-Nya, diulang-Nya sekali
lagi menyebut "Ar-
Rahmanir Rahim". Yang
demikian itu supaya lenyap
dari pikiran mereka
gambaran keganasan dan
kezaliman seperti raja-raja
yang dipertuan, yang
bersifat sewenang-
wenang.
Allah mengingatkan dalam
ayat ini bahwa sifat
ketuhanan Allah terhadap
hambanya bukanlah sifat
keganasan dan kezaliman,
tetapi berdasarkan cinta
dan kasih sayang.
Dengan demikian manusia
akan mencintai Tuhannya,
dan menyembah Allah
dengan hati yang aman dan
tenteram bebas dari rasa
takut dan gelisah. Malah dia
akan mengambil pelajaran
dari sifat-sifat Tuhan. Dia
akan mendasarkan
pergaulan dan tingkah
lakunya terhadap manusia
sesamanya, atau pun
terhadap orang yang di
bawah pimpinannya, malah
terhadap binatang yang tak
pandai berbicara sekalipun
atas sifat cinta dan kasih
sayang itu.
Karena dengan jalan
demikianlah manusia akan
mendapat rahmat dan
karunia dari Tuhannya.
Rasulullah saw. Bersabda:
امنإ محري هللا نم هدابع
ءامحرلا
Artinya:
Sesungguhnya Allah kasih
sayang kepada hamba-
hamba-Nya yang pengasih.
(H.R Tabrani)
نومحارلا مهمحري نمحرلا
كرابت و يلاعت اومحرا نم
يف ضرألا مكمحري نم يف
ءامسلا
Artinya:
Orang-orang yang kasih
sayang Tuhan yang Rahman
Tabaraka wa Taala akan
kasih sayang kepadanya.
(Oleh karena itu) kasih
sayanglah kamu semua
kepada semua makhluk
yang di bumi niscaya semua
makhluk yang di langit akan
kasih sayang kepada kamu
semua. (H.R Ahmad, Abu
Daud At Tarmizi dan Al
Hakim)
Dan sabda Rasulullah saw:
نم محر ولو ةحيبذ روفصع
همحر هللا موي ةمايقلا
Artinya:
Barang siapa (orang) yang
kasih sayang meskipun
kepada seekor burung
(pipit) yang disembelih,
Allah kasih sayang
kepadanya pada hari
kiamat. (H.R Bukhari)
Maksud hadis tersebut ialah
pada waktu menyembelih
burung itu dengan sopan
santun umpamanya dengan
pisau yang tajam.
Dapat pula dipahami dari
urutan kata "Ar-Rahman",
"Ar-Rahim" itu, bahwa
penjagaan, pemeliharaan
dan asuhan Tuhan terhadap
semesta alam, bukanlah
lantaran mengharapkan
sesuatu dari alam itu, hanya
semata-mata karena
rahmat dan belas kasihan
daripada-Nya.
Boleh jadi ada yang
terlintas pada pikiran orang,
mengapa Tuhan
mengadakan peraturan-
peraturan dan hukum-
hukum, dan menghukum
orang-orang yang
melanggar peraturan-
peraturan itu? Keragu-
raguan ini akan hilang bila
diketahui bahwa Allah swt.
mengadakan peraturan-
peraturan dan hukum-
hukum, begitu juga
menyediakan azab di
akhirat atau di dunia untuk
hamba-Nya yang
melanggar peraturan-
peraturan dan hukum-
hukum itu, bukanlah
berlawanan dengan sifat
Tuhan Yang Maha Pemurah
dan Maha Penyayang,
karena peraturan dan
hukum itu rahmat dari
Tuhan; begitu pula azab dari
Allah terhadap hamba-Nya
yang melanggar peraturan-
peraturan dan hukum-
hukum itu sesuai dengan
keadilan.

Wednesday, January 12, 2011

Tafsir Depag RI :QS 001 - AlFaatihah 2

QS 001 - Al
Faatihah 2
ُدْمَحْلا ِهَّلِل
ِّبَر َنيِمَلاَعْلا
)2 )
Pada ayat di atas Allah swt.
memulai firman-Nya
dengan menyebut
"Basmalah" untuk
mengajarkan kepada
hamba-Nya agar memulai
sesuatu perbuatan yang
baik dengan menyebut
basmalah itu, sebagai
pernyataan bahwa dia
mengerjakan perbuatan itu
karena Allah dan kepada-
Nyalah dia memohonkan
pertolongan dan berkat.
Maka pada ayat ini Allah
swt. mengajarkan hamba-
Nya agar selalu memuji
Allah.
"Al-Hamdu". دمحلا
Memuji oleh karena sesuatu
nikmat yang diberikan oleh
yang dipuji atau karena
sesuatu sifat keutamaan
yang dimiliki-Nya.
Semua nikmat yang telah
dirasakan dan didapat di
alam ini dari Allah, sebab
Dialah yang jadi sumber
bagi semua nikmat. Yang
mempunyai sifat-sifat
kesempurnaan, hanyalah
Allah semata. Karena itu
Allah sajalah yang berhak
dipuji.
Ada manusia dipuji orang
berhubung jasanya yang
banyak atau akhlak dan
budi pekertinya yang luhur,
tetapi orang memujinya itu
pada hakekatnya memuji
Tuhan, dengan disengaja
atau tidak karena Allahlah
yang jadi pangkal bagi
semua yang disebut itu.
Berhubung nikmat Allah
yang sangat banyak, dan
berhubung sifat-sifat
kesempurnaan yang
dipunyai oleh Allah, maka
sudah selayaknyalah
manusia selalu memuji-
Nya.
Orang yang menyebut
"Alhamdulillah" bukanlah
hanya mengakui bahwa puji
itu teruntuk bagi Allah
semata, bahkan dengan
ucapannya itu dia memuji
Allah.
Dapat juga seseorang
memuji Allah dengan
sebutan lain, yaitu: دمحلا
هلل tetapi ادمح هلل itulah
yang dipakaikan Allah di
sini, karena susunan
semacam itu mengandung
arti tetap, yakni
dipahamkan di dalamnya
bahwa Allah selamanya
dipuji, bukan sewaktu-
waktu saja.
بر arti aslinya: "Yang
Empunya" (pemilik) di
dalamnya terkandung arti:
mendidik, yaitu
menyampaikan sesuatu
kepada keadaannya yang
sempurna dengan
berangsur-angsur.
"Alamin" artinya "semesta
alam", yakni semua jenis
alam. Alam itu berjenis-
jenis macamnya, yaitu alam
tumbuh-tumbuhan, alam
binatang, alam manusia,
alam benda, alam makhluk
yang bertubuh halus
umpamanya malaikat, jin
dan alam yang lain. Ada ahli
tafsir mengkhususkan
"Alamin" di ayat ini kepada
makhluk-makhluk Allah
yang berakal yaitu manusia,
malaikat dan jin. Tetapi ini
berarti mempersempit arti
kata yang sebenarnya amat
luas.
Dengan demikian Allah itu
Pendidik semesta alam tak
ada suatu juga dari
makhluk Allah itu terjauh
dari didikan-Nya.
Tuhan mendidik makhluk-
Nya dengan seluas arti kata
itu. Sebagai pendidik, Dia
menumbuhkan, menjaga,
memberikan daya (tenaga)
dan senjata kepada
makhluk itu guna
kesempurnaan hidupnya
masing-masing. Siapa yang
memperhatikan perjalanan
bintang-bintang,
menyelidiki kehidupan
tumbuh-tumbuhan dan
binatang di laut dan di
darat, mempelajari
pertumbuhan manusia
sejak dari rahim ibunya,
sampai ke masa kanak-
kanak lalu menjadi manusia
yang sempurna, tahulah dia
bahwa tidak ada sesuatu
juga dari makhluk Tuhan
yang terlepas dari
penjagaan, pemeliharaan,
asuhan dan inayah-Nya.

Tafsir Depag RI :QS 001 - AlFaatihah 1

QS 001 - Al
Faatihah 1
ِمْسِب ِهَّللا
ِنَمْحَّرلا
ِميِحَّرلا )1 )
Di dalam Alquran ada 114
surah, semuanya dimulai
dengan "Basmalah", kecuali
surah At-Taubah. Surah At-
Taubah ini tidak dimulai
dengan "Basmalah" karena
memang tidak serasi kalau
dimulai dengan "Basmalah".
Di samping pada
permulaannya "Basmalah"
ada disebutkan satu kali di
pertengahan surah An-
Naml:30; dengan demikian
"Basmalah" itu didapati di
dalam Alquran 114 kali.
Ada beberapa pendapat
ulama berkenaan dengan
"Basmalah" yang terdapat
pada permulaan sesuatu
surah. Di antara pendapat-
pendapat itu yang
termasyhur ialah:
1. "Basmalah" itu
adalah suatu ayat
yang tersendiri,
diturunkan Allah
untuk jadi kepala
masing-masing surah,
dan pembatas antara
surah dengan surah
yang lain. Jadi dia
bukanlah satu ayat
dari Al-Fatihah atau
dari sesuatu surah
yang lain, yang
dimulai dengan
Basmalah itu. Ini
adalah pendapat
Imam Malik beserta
ahli qiraat dan fuqaha
Madinah, Basrah dan
Syam dan juga
pendapat Imam Abu
Hanifah dan pengikut-
pengikutnya. Sebab
itu menurut Imam
Abu Hanifah
"Basmalah" itu tidak
dikeraskan
membacanya dalam
salat bahkan Imam
Malik tidak membaca
Basmalah sama
sekali.
2. "Basmalah" adalah
salah satu ayat dari
Al-Fatihah, dan dari
sesuatu surah yang
lain, yang dimulai
dengan "Basmalah".
Ini adalah pendapat
Imam Syafii beserta
ahli qiraat Mekah dan
Kufah. Sebab itu
menurut mereka
"Basmalah" itu dibaca
dengan suara keras
dalam salat (Jahar).
Kalau kita perhatikan
bahwa sahabat-sahabat
Rasulullah saw. telah
sependapat menuliskan
"Basmalah" pada
permulaan sesuatu surah
dan surah-surah Alquranul
Karim itu, kecuali surah At-
Taubah (karena memang
dari semula turunnya tidak
dimulai dengan Basmalah)
dan bahwa Rasulullah saw.
melarang menuliskan
sesuatu yang bukan Alquran
supaya tidak bercampur
aduk dengan Alquran. Sebab
itu oleh mereka tidak
dituliskan "amin" di akhir
surah Al-Fatihah. Basmalah
itu adalah salah satu ayat
dari Alquran atau dengan
perkataan lain bahwa
"basmalah-basmalah" yang
terdapat di dalam Alquran
itu adalah ayat-ayat
Alquran, lepas dari
pendapat apakah satu ayat
dari Al-Fatihah atau dari
sesuatu surah yang lain,
yang dimulai dengan
Basmalah atau tidak.
Sebagai disebutkan di atas
surah Al-Fatihah itu terdiri
dari tujuh ayat. Mereka
yang berpendapat bahwa
basmalah itu tidak
termasuk satu ayat dari Al-
Fatihah, memandang:
ِرْيَغ ِبوُضْغَمْلا
ْمِهْيَلَع اَلَو
َنيِّلاَّضلا
adalah salah satu ayat,
dengan demikian ayat-ayat
Al-Fatihah itu tetap tujuh.
ِمْسِب ِهَّللا
ِنَمْحَّرلا ِميِحَّرلا
)1 )
"Dengan menyebut nama
Allah", maksudnya "dengan
menyebut nama Allah saya
baca atau saya mulai".
Seakan-akan Nabi berkata:
"Saya baca surah ini dengan
menyebut nama Allah,
bukan dengan menyebut
nama saya sendiri, sebab
dia wahyu dari Tuhan,
bukan dari saya sendiri.
Maka basmalah di sini
mengandung arti bahwa
Alquranul Karim itu wahyu
dari Allah, bukan karangan
Muhammad saw. dan
Muhammad itu hanyalah
seorang pesuruh Allah yang
dapat perintah
menyampaikan Alquran
kepada manusia.
Pemakaian kata "Allah"
"Allah" nama bagi Zat yang
ada dengan sendiri-Nya
(wajibul wujud). Kata
"Allah" itu hanya dipakai
oleh bangsa Arab kepada
Tuhan yang sebenarnya,
yang berhak disembah,
yang mempunyai sifat-sifat
kesempurnaan. Mereka
tidak memakai kata itu
untuk tuhan-tuhan atau
dewa-dewa mereka yang
lain.
Kata "Ar-Rahman" terambil
dari "Ar-Rahmah" yang
berarti "belas kasihan",
yaitu suatu sifat yang
menimbulkan perbuatan
memberi nikmat dan
karunia.
Jadi kata "Ar-Rahman" itu
ialah: Yang berbuat
(memberi) nikmat dan
karunia yang banyak.
Kata "Ar-Rahim" juga
terambil dari "Ar-Rahmah",
dan arti "Rahim" ialah:
Orang yang mempunyai
sifat belas kasihan, dan
sifat itu "tetap" padanya
selama-lamanya.
Maka Ar-Rahman Ar-Rahim
(Arrahmanirrahim) itu
maksudnya: Tuhan itu telah
memberi nikmat yang
banyak dengan murah-Nya
dan telah melimpahkan
karunia yang tidak
terhingga, karena Dia
adalah bersifat belas
kasihan kepada makhluk-
Nya, dan oleh karena sifat
belas kasihan itu adalah
suatu sifat yang tetap
pada-Nya maka nikmat dan
karunia Allah itu tidak ada
putus-putusnya.
Dengan demikian maka
kata-kata "Ar-Rahman" dan
"Ar-Rahim" itu kedua-
duanya adalah diperlukan
dalam susunan ini, karena
masing-masing mempunyai
arti yang khusus.
Tegasnya bila seseorang
Arab mendengar orang
mensifati Allah dengan Ar-
Rahman, maka terpahamlah
olehnya bahwa Allah itu
telah melimpahkan nikmat
dan karunia-Nya dengan
banyak dan berlimpah-
limpah. Tetapi bahwa
limpahan nikmat dan
karunia yang banyak itu
tetap, tidak putus-putus
tidak dapat dipahami dari
lafaz Ar-Rahman itu saja.
Karena itu perlulah diikuti
dengan Ar-Rahim, supaya
orang mengambil
pengertian bahwa limpahan
nikmat dan karunia serta
kemurahan Allah itu tidak
ada putus-putusnya.
Hikmah membaca
basmalah
Seorang muslim disuruh
membaca basmalah di
waktu mengerjakan
sesuatu pekerjaan yang
baik. Yang demikian itu
untuk mengingatkan bahwa
pekerjaan yang
dikerjakannya itu adalah
suruhan Allah, atau karena
telah diizinkan-Nya. Maka
karena Allahlah dia
mengerjakan pekerjaan itu
dan kepada-Nya dia
meminta pertolongan
supaya pekerjaan itu
terlaksana dengan baik dan
berhasil.
Nabi saw. bersabda:
لك رمأ يذ لاب أدبيال هيف
مسبب هللا وهف رتبأ يأ
عوطقم بنذلا صقان
Sesuatu pekerjaan yang
penting yang tidak dimulai
dengan menyebut nama
Allah adalah buntung, yakni
tidak ada hasilnya.
Orang Arab sebelum datang
Islam mengerjakan sesuatu
pekerjaan adalah dengan
menyebut Al-Lata dan Al-
`Uzza, yaitu nama-nama
berhala mereka. Sebab itu
Allah swt. mengajarkan
kepada penganut-penganut
agama Islam yang telah
mengesakan-Nya supaya
mereka mengerjakan
dengan menyebut nama
Allah

Monday, December 27, 2010

BISMILLAAHIRRAHMAANNIROHIIM.
Teringat akan kisah para kekasih ALLAH,yang tiada putus mencari ilmu.Khususnya ilmu tauhid,sebenarnya ilmu itu bermacam-macam,bisa membawa kita ke jalan yang lurus atau semakin membawa kita masuk ke dalam neraka/kesesatan.

Ilmu akan semakin bernilai bukan karena untuk mencari uang,melainkan pelita bagi semua yang ada disekitarnya.Mudah-mudahan kita semua dapat mengamalkan ilmu kita sebaik-baiknya.amiin.

Aku pengen memulai dari pembelajaran tentang alqur'an.Semoga ini dapat bermanfaat bagi kita semua..

Etimologi
Ditinjau dari segi kebahasaan, Al-
Qur ’an berasal dari bahasa Arab
yang berarti "bacaan" atau "sesuatu
yang dibaca berulang-ulang". Kata
Al-Qur ’an adalah bentuk kata benda
(masdar) dari kata kerja qara'a yang
artinya membaca. Konsep
pemakaian kata ini dapat juga
dijumpai pada salah satu surat Al-
Qur'an sendiri yakni pada ayat 17
dan 18 Surah Al-Qiyamah yang
artinya:
“Sesungguhnya mengumpulkan
Al-Qur’an (di dalam dadamu)
dan (menetapkan) bacaannya
(pada lidahmu) itu adalah
tanggungan Kami. (Karena itu,)
jika Kami telah membacakannya,
hendaklah kamu ikuti {amalkan}
bacaannya ”.(75:17-75:18)

like