Wednesday, January 19, 2011

Tafsir Depag RI :QS 001 - AlFaatihah 5

Tafsir Depag RI : QS 001 - Al
Faatihah 5
َكاَّيِإ ُدُبْعَن
َكاَّيِإَو
ُنيِعَتْسَن )5(
Di dalam ayat-ayat yang
telah disebutkan empat
macam dari sifat-sifat
Tuhan, yaitu:
Pendidik semesta alam
Maha Pemurah
Maha Penyayang
Dan Yang menguasai
hari pembalasan.
Sifat-sifat yang disebutkan
itu adalah sifat-sifat
kesempurnaan yang hanya
Allah sajalah yang
mempunyainya. Sebab itu
pada ayat ini Allah
mengajarkan kepada
hamba-Nya bahwa Allah
sajalah yang patut
disembah, dan kepada-Nya
sajalah seharusnya
manusia memohonkan
pertolongan, dan bahwa
hamba-Nya haruslah
mengikrarkan yang
demikian itu.
"Iyyaka" (hanya kepada
Engkaulah).
Susunan ayat-ayat ini
membawa pengertian
"pengkhususan" yaitu
pengkhususan "ibadah"
kepada Allah.
Jadi arti ayat ini: "Kepada
Engkau sajalah kami tunduk
dan berhina diri, dan kepada
Engkau sajalah kami
memohonkan suatu
pertolongan".
Pertolongan yang khusus
dimohonkan kepada Allah
ialah tentang sesuatu yang
di luar kemampuan dan
kekuasaan manusia.
"Iyyaka" dalam ayat ini
diulang dua kali, gunanya
untuk menegaskan bahwa
ibadat dan isti`anah itu
masing-masing khusus
dihadapkan kepada Allah.
Selain dari itu untuk dapat
mencapai kelezatan
munajat (berbicara) dengan
Allah. Karena bagi seorang
hamba Allah yang
menyembah dengan
segenap jiwa dan raganya
tak ada yang lebih nikmat
dan lezat pada perasaannya
daripada bermunajat
dengan Allah.
Baik juga diketahui bahwa
dengan memakai "Iyyaka"
itu berarti menghadapkan
pembicaraan kepada Allah,
dengan maksud
menghadirkan Allah swt.
dalam ingatan, seakan-
akan Dia berada di muka
kita, dan kepada-Nya
dihadapkan pembicaraan
dengan khusyuk dan
tawaduk. Seakan-akan kita
berkata:
"Ya Allah, Zat yang wajibul
wujud. Yang bersifat
dengan segala sifat
kesempurnaan. Yang
menjaga dan memelihara
semesta alam. Yang
melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya dengan
berlipat ganda. Yang
berkuasa di hari
pembalasan. Engkau
sajalah yang kami sembah,
dan kepada Engkau sajalah
kami meminta pertolongan.
Karena hanya Engkau yang
berhak disembah dan hanya
Engkau yang dapat
menolong kami".
Dengan cara yang seperti
itu orang akan lebih
khusyuk di dalam
menyembah Allah dan lebih
tergambar kepadanya
kebesaran Yang
disembahnya itu.
Inilah yang dimaksud oleh
Rasulullah saw. dengan
sabdanya:
نأ دبعت هللا كنأك هارت
Artinya:
Hendaklah engkau
menyembah Allah itu
seakan-akan engkau
melihat-Nya. (H.R Bukhari
dan Muslim dari Umar bin
Khattab)
Karena surah Al-Fatihah
mengandung ayat munajat
(berbicara) dengan Allah
menurut cara yang
diterangkan merupakan
rahasia diwajibkan
membacanya tiap-tiap
rakaat dalam salat, karena
itu jiwanya ialah munajat
dengan menghadapkan diri
dan memusatkan ingatan
kepada Allah.
"Na'budu" pada ayat ini
didahulukan
menyebutkannya dari
"nasta`iinu", karena
menyembah Allah itu adalah
suatu kewajiban manusia
terhadap Tuhannya. Tetapi
pertolongan dari Tuhan
kepada seseorang hamba-
Nya adalah hak hamba itu.
Maka seakan-akan Tuhan
mengajar hamba-Nya
supaya menunaikan
kewajibannya lebih dahulu,
sebelum ia menuntut
haknya.
Melihat kata-kata
"na`budu" dan
"nasta`iinu" (kami
menyembah, kami minta
tolong), bukan a`budu" dan
"asta`iinu" (saya
menyembah dan saya
minta tolong) adalah untuk
memperlihatkan kelemahan
manusia itu, dan tidak
selayaknya mengemukakan
dirinya seorang saja dalam
menyembah dan memohon
pertolongan kepada Allah,
seakan-akan penunaian
kewajiban beribadat dan
permohonan pertolongan
kepada Allah itu belum lagi
sempurna kecuali kalau
dikerjakan dengan
bersama-sama.
Kedudukan tauhid di dalam
ibadat dan sebaliknya
Arti "ibadat" sebagai
disebutkan di atas ialah
tunduk dan berhina diri
kepada Allah, yang
disebabkan oleh kesadaran
bahwa Allah yang
menciptakan alam ini, Yang
menumbuhkan, Yang
mengembangkan, Yang
menjaga dan memelihara
serta Yang membawanya
dari suatu keadaan kepada
keadaan yang lain hingga
tercapai kesempurnaannya.
Tegasnya ibadat itu
timbulnya dari perasaan
tauhid, maka orang yang
suka memikirkan keadaan
alam ini, yang
memperhatikan perjalanan
bintang-bintang, kehidupan
tumbuh-tumbuhan,
binatang dan manusia,
bahkan yang mau
memperhatikan dirinya
sendiri, yakinlah dia bahwa
di balik alam yang zahir ada
Zat yang gaib yang
mengendalikan alam ini,
yang bersifat dengan
segala sifat kesempurnaan,
yakni Dialah Yang Maha
Kuasa, Maha Pengasih,
Maha Mengetahui dan
sebagainya. Maka
tumbuhlah dalam
sanubarinya perasaan
bersyukur dan berutang
budi kepada Zat Yang Maha
Kuasa, Maha Pengasih dan
Maha Mengetahui itu.
Perasaan inilah yang
menggerakkan bibirnya
untuk menuturkan puji-
pujian, dan yang
mendorong jiwa dan
raganya untuk menyembah
dan berhina diri kepada
Allah Yang Maha Kuasa itu
sebagai pernyataan
bersyukur dan membalas
budi kepada-Nya.
Tetapi ada juga manusia
yang tidak mau berpikir,
dan selanjutnya tidak sadar
akan kebesaran dan
kekuasaan Tuhan, sering
melupakan-Nya, sebab
itulah maka tiap-tiap
agama disyariatkan
bermacam-macam ibadat,
gunanya untuk
mengingatkan manusia
kepada kebesaran dan
kekuasaan Allah itu.
Dengan keterangan ini
kelihatanlah bahwa tauhid
dan ibadat itu pengaruh-
mempengaruhi dengan arti
tauhid menumbuhkan
ibadat dan ibadat memupuk
tauhid.
Pengaruh ibadat terhadap
jiwa manusia
Tiap-tiap ibadat yang
dikerjakan karena didorong
oleh perasaan yang
disebutkan itu, niscaya ada
kesannya kepada tabiat
dan budi pekerti orang yang
beribadat itu. Umpamanya
orang yang mendirikan
salat karena sadar akan
kebesaran dan kekuasaan
Allah, dan didorong oleh
perasaan bersyukur dan
berutang budi kepada-Nya,
akan terjauhlah dia dari
perbuatan-perbuatan yang
tidak baik, yang dilarang
Allah. Dengan demikian
salatnya itu akan
mencegahnya dari
mengerjakan perbuatan-
perbuatan yang tidak baik
itu, sesuai dengan firman
Allah swt.:
َّنِإ َةاَلَّصلا
ىَهْنَت ِنَع
ِءاَشْحَفْلا
Artinya:
Sesungguhnya salat itu
mencegah dari perbuatan
keji dan mungkar. (Q.S Al
Ankabut: 45)
Begitu juga ibadat puasa.
Ibadat ini akan
menimbulkan perasaan
cinta dan kasih sayang
terhadap orang-orang yang
melarat dan miskin pada
diri orang yang berpuasa
itu. Dan seterusnya dengan
ibadat-ibadat yang lain.
Tetapi ibadat yang bukan
ditimbulkan oleh keyakinan
kepada kebesaran dan
kekuasaan Allah, dan bukan
pula didorong oleh perasaan
bersyukur dan berutang
budi kepada Allah itu, hanya
karena turut-turutan, atau
karena memelihara tradisi
yang sudah turun-temurun,
bukanlah ibadat yang
sebenarnya, dan
kendatipun dia mempunyai
rupa dan bentuk ibadat,
tetapi tidak ada mempunyai
jiwa ibadat itu, tak ubahnya
dengan gambar atau
patung, bagaimana pun
juga miripnya dengan
manusia, tidaklah dinamai
manusia. Selanjutnya
ibadat yang semacam itu
tidak ada kesan dan
buahnya kepada tabiat dan
akhlak orang yang
beribadat itu.
Berusahaberdoa dan
bertawakal
"Isti`anah" (memohon
pertolongan) sebagai
disebutkan di atas khusus
dihadapkan kepada Allah,
dengan arti bahwa tidak
ada yang berhak
dimohonkan
pertolongannya kecuali
Allah.
Dalam pada itu, pada ayat
yang lain Allah menyuruh
manusia bertolong-
tolongan dalam
mengerjakan kebaikan.
Allah berfirman:
اوُنَواَعَتَو ىَلَع
ِّرِبْلا
ىَوْقَّتلاَو
Artinya:
Dan tolong-menolonglah
kamu dalam (mengerjakan)
kebaikan dan takwa. (Q.S Al
Ma'idah: 2)
Adakah pertentangan
antara dua ayat itu? Tidak
Tercapainya sesuatu
maksud, atau
terlaksananya suatu
pekerjaan dengan baik
adalah tergantung kepada
cukupnya syarat-syarat
yang dibutuhkan dalam
melaksanakan pekerjaan
itu, dan tidak adanya
rintangan-rintangan yang
akan menghalanginya.
Manusia telah diberi Allah
tenaga, baik yang berupa
pikiran maupun yang
berupa kekuatan tubuh,
untuk dipakai guna
mencukupkan syarat-
syarat, atau menolak
rintangan-rintangan dalam
menuju suatu maksud, atau
mengerjakan sesuatu
pekerjaan. Tetapi ada di
antara syarat-syarat itu
yang tidak kuasa manusia
mencukupkannya,
sebagaimana di antara
rintangan itu ada yang di
luar kekuasaan manusia
menolaknya. Begitu pula
ada di antara syarat-syarat
itu atau di antara halangan-
halangan itu yang tidak
dapat diketahui. Maka
kendatipun menurut
pikirannya dia telah
mencukupkan semua
syarat-syarat yang
diperlukan, dan telah
menjauhkan semua
rintangan-rintangan yang
menghalangi, tetapi hasil
pekerjaannya itu belum lagi
sebagai yang dicita-
citakannya. Jadi ada hal-hal
yang tidak masuk dalam
batas kekuasaan dan
kemampuan manusia. Itulah
yang dimintakan
pertolongan khusus kepada
Allah. Sebaiknya tentang
sesuatu yang termasuk
dalam batas kekuasaan dan
kemampuan manusia, dia
disuruh bertolong-tolongan,
supaya tenaga menjadi
kuat, dan agar ada pada
masing-masing manusia
sifat cinta-mencintai,
harga-menghargai, dan
gotong-royong.
Dengan perkataan lain,
manusia disuruh Allah
berusaha dengan sekuat
tenaga, dan disuruh tolong-
menolong, bantu-
membantu. Di samping
menjalankan ikhtiar dan
usahanya itu, dia harus pula
berdoa, memohon taufik,
hidayah dan ma`unah. Ini
hendaknya dimohonkannya
khusus kepada Allah,
karena hanyalah Dia yang
kuasa memberinya.
Sesudah itu semua, barulah
dia bertawakal kepada-
Nya.
Ibadat itu sendiri pun
sesuatu pekerjaan yang
berat, sebab itu haruslah
dimintakan ma`unah dari
Allah supaya semua ibadat
terlaksana sebagai yang
dimaksud oleh agama.
Maka seseorang
menuturkan bahwa hanya
kepada Allahlah kita
beribadat, diikuti lagi
dengan pernyataan bahwa
kepada-Nya saja minta
pertolongan, terutama
pertolongan agar amal
ibadat terlaksana
sebagaimana mestinya.
Ayat di atas, sebagai telah
disebutkan, mengandung
tauhid, karena beribadat
semata-mata kepada Allah
dan meminta ma`unah
khusus kepada-Nya, adalah
intisari agama, dan
kesempurnaan tauhid.
Ibadat itu sendiri pun
sesuatu pekerjaan yang
berat, sebab itu haruslah
dimintakan ma`unah dari
Allah supaya semua ibadat
terlaksana sebagai yang
dimaksud oleh agama.
Maka seseorang
menuturkan bahwa hanya
kepada Allahlah kita
beribadat, diikuti lagi
dengan pernyataan bahwa
kepada-Nya saja minta
pertolongan, terutama
pertolongan agar amal
ibadat terlaksana
sebagaimana mestinya.
Ayat di atas, sebagai telah
disebutkan, mengandung
tauhid, karena beribadat
semata-mata kepada Allah
dan meminta ma`unah
khusus kepada-Nya, adalah
intisari agama, dan
kesempurnaan tauhid.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment

like